Dalam diskursus ilmu usuluddin atau kalam, pembahasan mengenai Ma'rifatullah (mengenal Allah) merupakan pondasi paling fundamental yang melandasi seluruh bangunan syariat Islam. Para ulama mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah telah merumuskan metodologi pembacaan teks wahyu yang diselaraskan dengan akal murni untuk merumuskan sifat-sifat yang wajib ada pada Zat Allah SWT. Pemetaan sifat wajib menjadi dua puluh ini bukanlah bentuk pembatasan terhadap keagungan Allah yang tak terbatas, melainkan sebuah formulasi pedagogis-sistematis untuk menjaga aqidah umat dari jurang tasybih (penyamaan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (pengingkaran sifat-sifat Tuhan). Setiap mukallaf diwajibkan memahami sifat-sifat ini beserta dalil-dalilnya, baik yang bersifat naqli (al-Qur'an dan as-Sunnah) maupun 'aqli (argumentasi rasional).

الْبَلَاغُ الأَوَّلُ: فِي إِثْبَاتِ الذَّاتِ وَتَنْزِيهِهَا عَنِ الْمُشَابَهَةِ

Dalam Artikel

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيهِهِ: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَقَالَ الإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ الأَشْعَرِيُّ فِي بَيَانِ الْعَقِيدَةِ: إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاحِدٌ لا شَرِيكَ لَهُ، وَقَدِيمٌ لا بِدَايَةَ لَهُ، وَبَاقٍ لا نِهَايَةَ لَهُ، لا يُشْبِهُ الخَلْقَ فِي ذَاتِهِ وَلا فِي صِفَاتِهِ وَلا فِي أَفْعَالِهِ، صَمَدٌ لا جَوْفَ لَهُ، وَلا يَحُلُّ فِي شَيْءٍ وَلا يَحُلُّ فِيهِ شَيْءٌ، جَلَّ عَنِ الشَّبِيهِ وَالنَّظِيرِ وَالتَّجْسِيمِ، وَقَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَكُنْ مُفْتَقِرًا إِلَى المَكَانِ وَالزَّمَانِ.

Syarah dan Analisis Teks Pertama:

Teks di atas mengurai dua kategori utama dalam sistematika sifat wajib, yaitu Sifat Nafsiyah (Wujud) dan Sifat Salbiyah (Qidam, Baqa', Mukhalafatu lil Hawaditsi, Qiyamuhu Binafsihi, dan Wahdaniyah). Firman Allah dalam Surah ash-Syura ayat 11 merupakan kaidah universal tanzih (penucian mutlak). Ulama mutakallimin menegaskan bahwa sifat Wujud adalah sifat nafsiyah yang menunjukkan keberadaan Zat Allah tanpa membutuhkan illat (causa). Penegasan bahwa Allah berbeda dari makhluk (Mukhalafatu lil Hawaditsi) membatalkan seluruh paham antropomorfisme (tajsim dan tasybih). Allah tidak terikat oleh ruang (makan) dan waktu (zaman) karena ruang dan waktu adalah makhluk yang diciptakan. Sifat Qiyamuhu Binafsihi mempertegas kemandirian mutlak Allah yang tidak membutuhkan tempat bersemayam (mahall) maupun pencipta lain. Sementara sifat Wahdaniyah menafikan tiga bentuk kemajemukan (kam): baik kam muttashil maupun kam munfashil pada Zat, Sifat, dan Perbuatan-Nya.

الْبَلَاغُ الثَّانِي: فِي صِفَاتِ الْمَعَانِي وَتَعَلُّقَاتِهَا بِالْمُمْكِنَاتِ

وَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. وَجَاءَ فِي مَتْنِ أُمِّ الْبَرَاهِينِ لِلإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ السَّنُوسِيِّ: فَالْقُدْرَةُ وَالإِرَادَةُ صِفَتَانِ قَدِيمَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالَى، يَتَعَلَّقُ بِهِمَا كُلُّ مُمْكِن