Sistem teologi Islam, khususnya yang dirumuskan oleh mazhab Asy-ariyah dan Maturidiyah sebagai representasi utama Ahlus Sunnah wal Jamaah, menempatkan ma'rifatullah (mengenal Allah) sebagai kewajiban pertama bagi setiap mukalaf. Fondasi utama dari ma'rifatullah ini adalah memahami sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz (mungkin) bagi Allah Swt. Formulasi sifat dua puluh yang disusun oleh para ulama mutakallimin bukanlah sebuah bid'ah teologis, melainkan sebuah metodologi sistematis untuk mempermudah umat Islam dalam memahami wahyu dan menjaga kemurnian tauhid dari gempuran pemikiran filsafat helenistik serta paham-paham menyimpang seperti Mujassimah (antropomorfisme) dan Mu'tazilah (rasionalisme ekstrem). Kajian ini akan membedah secara komprehensif struktur epistemologi sifat-sifat wajib tersebut dengan menyandingkan dalil naqli (Al-Quran dan Hadits) serta dalil aqli (rasio logis) yang otoritatif.
PARAGRAF PENJELASAN BLOK 1
Dalam klasifikasi sifat wajib bagi Allah, kelompok pertama yang menjadi fondasi dari seluruh sifat lainnya adalah Sifat Nafsiyyah. Sifat nafsiyyah adalah sifat yang berfungsi untuk menunjukkan adanya zat Allah, yang mana zat tersebut tidak dapat diterima oleh akal jika tidak disifati dengan sifat ini. Sifat tersebut adalah Wujud (Ada). Keberadaan Allah bersifat mutlak dan mandiri (Wajib al-Wujud), berbeda dengan keberadaan alam semesta yang bersifat bergantung dan baru (Mumkin al-Wujud). Untuk memahami hakikat wujud Allah yang mendahului segala sesuatu tanpa permulaan dan mengakhiri segala sesuatu tanpa batas akhir, para ulama merujuk pada teks-teks Al-Quran yang sangat eksplisit mengonfirmasi keabadian zat-Nya.
TEKS ARAB BLOK 1
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَ

