Diskusi mengenai hakikat ketuhanan merupakan fondasi paling sentral dalam bangunan syariat Islam. Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah kesadaran ontologis yang meresap ke dalam seluruh aspek kehidupan. Surah Al-Ikhlas, meskipun secara tekstual sangat singkat, mengandung substansi yang mencakup sepertiga Al-Quran karena ia memurnikan konsep ketuhanan dari segala bentuk antropomorfisme dan kemusyrikan. Para ulama tafsir menegaskan bahwa surah ini adalah jawaban definitif atas pertanyaan kaum musyrikin mengenai silsilah atau nasab Tuhan. Secara epistemologis, pemahaman terhadap surah ini menjadi gerbang utama dalam mengenal Allah (Ma’rifatullah) secara benar sesuai dengan manhaj Salafus Shalih.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Apakah salah seorang di antara kalian merasa lemah untuk membaca sepertiga Al-Quran dalam satu malam? Para sahabat bertanya: Bagaimana cara membaca sepertiga Al-Quran? Beliau menjawab: Qul Huwallahu Ahad setara dengan sepertiga Al-Quran. Syarah hadis ini menunjukkan bahwa Al-Quran terbagi menjadi tiga bagian besar: hukum-hukum (ahkam), kisah-kisah (qashash), dan tauhid (sifat-sifat Allah). Surah Al-Ikhlas sepenuhnya memuat bagian ketiga, yakni pemurnian tauhid, sehingga secara nilai substansial ia mewakili sepertiga dari seluruh isi wahyu Ilahi.
Dalam ayat pertama, Allah menegaskan keesaan-Nya dengan diksi Al-Ahad yang secara semantik berbeda dengan Al-Wahid. Al-Wahid berarti satu dalam urutan angka, sedangkan Al-Ahad adalah keesaan mutlak yang tidak dapat dibagi, tidak memiliki bagian, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya dalam dzat maupun sifat.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . هَذِهِ السُّورَةُ فِيهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ وَلِذَلِكَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مَنْ قَرَأَهَا وَتَدَبَّرَ مَعَانِيَهَا لِأَنَّهَا خَالِصَةٌ فِي التَّوْحِيدِ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Surah ini mengandung sifat-sifat Ar-Rahman, dan oleh karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencintai orang yang membacanya dan merenungkan maknanya karena surah ini murni membahas tentang tauhid. Istilah As-Samad dalam ayat kedua merujuk pada Dzat yang sempurna dalam kemuliaan, keagungan, dan kekuasaan-Nya, di mana seluruh makhluk bersandar kepada-Nya dalam setiap hajat, sementara Dia tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya.
Analisis mendalam terhadap ayat ketiga dan keempat memberikan penegasan tentang Tanzih (penyucian Allah) dari segala keterbatasan makhluk. Pernyataan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan adalah bantahan telak terhadap paham teologi yang menyematkan sifat biologis atau nasab kepada Tuhan.
قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ : الصَّمَدُ هُوَ الَّذِي لَا جَوْفَ لَهُ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : هُوَ السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدُدِهِ وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عَظَمَتِهِ
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Ibnu Katsir menyatakan dalam tafsirnya bahwa As-Samad adalah Dzat yang tidak berongga (tidak membutuhkan makan dan minum). Sementara Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa As-Samad adalah pemimpin yang sempurna dalam kepemimpinan-Nya, maha mulia yang sempurna dalam kemuliaan-Nya, dan maha agung yang sempurna dalam keagungan-Nya. Penjelasan ini menekankan bahwa kemandirian Allah (Qiyamuhu binafsihi) adalah mutlak, sehingga mustahil bagi-Nya untuk memiliki asal-usul (diperanakkan) atau memiliki keturunan (beranak), karena hal tersebut menunjukkan kelemahan dan ketergantungan.

