Dalam diskursus teologi Islam, khususnya dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang diwakili oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, pemahaman terhadap sifat-sifat Allah Swt merupakan pilar fundamental dalam menjaga kemurnian tauhid. Ilmu Kalam merumuskan adanya dua puluh sifat wajib bagi Allah Swt yang dikelompokkan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Formulasi ini bukanlah sebuah bid'ah teologis, melainkan sebuah metodologi sistematis (manhaj) untuk membantu akal manusia memahami batasan transendensi ilahi (tanzih) sekaligus menghindari jebakan penyerupaan Allah dengan makhluk (tashbih) atau penafian sifat-sifat-Nya (ta'til). Melalui kajian ilmiah ini, kita akan membedah secara mendalam beberapa sifat wajib yang representatif dari setiap kategori tersebut dengan merujuk pada teks-teks otoritatif Al-Quran dan syarah para ulama klasik.
Paragraf Penjelasan Indonesia 1:
Pembahasan kita mulai dengan sifat yang paling mendasar, yaitu sifat Wujud (Ada). Sifat ini digolongkan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukan pada zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan hal lain. Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan mutlak (Wajib al-Wujud) yang tidak didahului oleh tiada dan tidak diakhiri oleh kepunahan. Para ulama mutakallimin menggunakan dalil kosmologis (huduth al-alam) untuk membuktikan bahwa keteraturan alam semesta ini mustahil terjadi secara kebetulan, melainkan harus ada Sang Pencipta yang Maha Ada. Dalil naqli mengenai sifat ini terekam dengan sangat indah dalam dialog para rasul yang diabadikan dalam Al-Quran.
قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى
Terjemahan & Syarah/Tafsir Indonesia 1:
Berkata rasul-rasul mereka: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?

