Filsafat ketuhanan dalam Islam bukanlah sekadar perdebatan abstrak tanpa arah, melainkan sebuah rumusan sistematis yang berpijak pada wahyu ilahi dan divalidasi oleh penalaran akal yang sehat. Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, pemahaman terhadap Dzat Allah Swt dibangun di atas fondasi pengenalan terhadap sifat-sifat-Nya. Mengenal sifat wajib bagi Allah merupakan langkah awal dan paling mendasar dalam ma'rifatullah (mengenal Allah). Sifat-sifat ini diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu nafsiyyah, salbiyyah, ma'ani, dan ma'nawiyyah. Melalui metodologi tafsir dan analisis teologis (ilm al-kalam), kita dapat memahami bagaimana teks-teks suci Al-Quran memberikan bimbingan epistemologis agar manusia terhindar dari dua jurang ekstrem: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat-sifat Allah).

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُ