Mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) merupakan fondasi utama dalam seluruh bangunan keislaman. Para ulama tauhid sepakat bahwa kewajiban pertama bagi setiap mukallaf adalah mengetahui dan meyakini dengan seyogianya tentang sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Swt. Dalam tradisi ilmiah Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya madzhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, sifat-sifat wajib ini dirumuskan secara sistematis guna membimbing akal manusia agar tidak tergelincir ke dalam paham ateisme (ta'thil) maupun penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tasybih). Pendekatan teologis ini tidak hanya bersandar pada argumen rasional (aqli), melainkan berakar kuat pada wahyu ketuhanan (naqli) yang termaktub dalam Al-Quran al-Karim. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap sifat-sifat wajib ini, seorang mukmin akan meraih kemurnian tauhid yang membebaskan jiwanya dari penghambatan kepada sesama makhluk menuju penghambatan mutlak kepada Sang Pencipta Semesta.

Pembahasan pertama dalam ranah akidah Islamiyah adalah menetapkan keberadaan pencipta. Sifat Wujud merupakan sifat nafsiyah, yaitu sifat yang dengannya zat Allah ada tanpa adanya sebab luar. Eksistensi Allah adalah mutlak, tidak bermula dan tidak berakhir, berbeda dengan eksistensi makhluk yang bersifat mungkin (jaiz al-wujud). Kaum mutakallimin merumuskan dalil huduts (kebaharuan alam) untuk membuktikan wujud-Nya, yang selaras dengan petunjuk Al-Quran bahwa keteraturan kosmos ini mustahil terwujud tanpa adanya Pengatur yang Maha Ada.

Dalam Artikel

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Terjemahan: Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain Dia seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Saj