Penyusunan doktrin akidah dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, khususnya yang dikristalisasikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, merupakan sebuah usaha intelektual yang monumental untuk memelihara kemurnian tauhid dari dua jurang ekstremisme pemikiran, yaitu anthropomorfisme (tajsim) dan negasi total sifat Tuhan (ta'til). Dalam episteme ilmu kalam, pengenalan terhadap Allah Swt (ma'rifatullah) melalui perangkat akal yang dibimbing oleh wahyu merupakan kewajiban manifes bagi setiap mukallaf. Para ulama mutakallimin memformulasikan struktur sifat-sifat yang wajib bagi Allah Swt ke dalam dua puluh sifat. Formulasi ini bukan bertujuan untuk membatasi keagungan Allah yang tak terbatas, melainkan sebagai metodologi pedagogis dan logis untuk membentengi akal manusia dari kesesatan konseptual. Pengelompokan ini secara sistematis terbagi menjadi empat kategori utama, yaitu sifat nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah.
[TEKS ARAB BLOK 1]
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan dan Syarah Analytical Blok 1:
Dia Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dialah Yang Awal dan Yang Akhير (Yang Akhir), Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Ash-Shura: 11 dan QS. Al-Hadid: 3)
Syarah Keilmuan: Ayat di atas merupakan kaidah fundamental (al-qaidah al-kulliyyah) dalam melandasi sifat Wujud (Nafsiyah) dan sifat-sifat Salbiyah seperti Qidam (Maha Dahulu), Baqa (Maha Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dari Makhluk), dan Qiyamuhu bi Nafsihi (Berdiri Sendiri). Frasa "Laysa Kamitslihi Syai'un" merupakan fondasi tanzih (penucian mutlak) yang membatalkan segala bentuk penyamaan Zat Tuhan dengan alam material. Ketiadaan kemiripan ini menuntut secara rasional bahwa eksistensi Allah bersifat Al-Awwal (tanpa permulaan) dan Al-Akhir (tanpa pencerabutan eksistensi). Secara metodologis, penetapan sifat Salbiyah ini berfungsi mengeliminasi seluruh sifat kekurangan (naqs) yang melekat pada eksistensi kontingensi (hadits/makhluk).
[TEKS ARAB BLOK 2]
فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً : وَهِيَ الْوُجُودُ ، وَالْقِدَمُ ، وَالْبَقَاءُ ، وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ ، وَالْقِيَامُ بِالنَّفْسِ ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ ، وَالْقُدْرَةُ ، وَالْإِرَادَةُ ، وَالْعِلْمُ ، وَالْحَيَاةُ ، وَالسَّمْعُ ، وَالْبَصَرُ ، وَالْكَلَامُ ، وَكَوْنُهُ قَادِرًا ، وَمُرِيدًا ، وَعَالِمًا ، وَحَيًّا ، وَسَمِيعًا ، وَبَصِيرًا ، وَمُتَكَلِّمًا
Terjemahan dan Syarah Analytical Blok 2:

