Shalat merupakan tiang agama yang menjadi barometer utama seluruh amal perbuatan seorang hamba di akhirat kelak. Namun, shalat yang memiliki bobot di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala bukanlah sekadar gerakan lahiriah yang hampa dari kehadiran hati. Khusyu adalah ruh dari shalat itu sendiri. Tanpa khusyu, shalat ibarat jasad yang mati. Secara etimologi, khusyu berarti tunduk, tenang, dan rendah hati. Secara terminologi syariat, khusyu adalah hadirnya hati di hadapan Allah dengan perasaan takut, cinta, dan pengagungan yang dibarengi dengan ketenangan anggota badan. Para ulama salaf menekankan bahwa khusyu dimulai dari makrifatullah atau pengenalan yang mendalam terhadap sifat-sifat Allah yang Maha Agung, sehingga muncul rasa malu dan rendah diri saat berkomunikasi dengan-Nya melalui media shalat.

Langkah pertama dalam meraih kekhusyuan adalah memahami bahwa shalat merupakan syarat utama keberuntungan seorang mukmin. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya yang menjadi fondasi utama dalam kajian khusyu.

Dalam Artikel

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۞ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۞ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ۞ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dalam Tafsir Al-Munir, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa kata Aflaha mencakup keberuntungan duniawi dan ukhrawi. Penggunaan isim fail Khashi'un menunjukkan bahwa khusyu harus menjadi sifat yang melekat permanen (malakah) dalam diri seorang mushalli. Khusyu di sini mencakup dua dimensi: Khusyu Al-Qalb (ketundukan hati) dan Khusyu Al-Jawarih (ketenangan anggota tubuh). Ketika hati telah tunduk kepada kebesaran Allah, maka secara otomatis seluruh anggota tubuh akan tenang, pandangan akan terjaga, dan tidak akan melakukan gerakan-gerakan sia-sia yang dapat merusak kualitas shalat.

Selanjutnya, khusyu dibangun di atas fondasi Ihsan, yaitu kesadaran penuh akan pengawasan Allah. Seorang hamba yang menyadari bahwa ia sedang berdiri di hadapan Sang Pencipta alam semesta akan merasakan getaran keimanan yang mencegah pikirannya melayang ke urusan duniawi.

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Hadits ini merupakan bagian dari Hadits Jibril yang sangat masyhur, diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam tinjauan teologis, maqam Ihsan ini terbagi menjadi dua tingkatan. Pertama, Maqam Al-Musyahadah, yaitu seseorang beribadah dengan perasaan seakan-akan melihat Allah dengan mata hatinya, sehingga timbul rasa cinta dan rindu. Kedua, Maqam Al-Muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik dan bisikan hatinya. Bagi seorang mushalli, menghadirkan perasaan diawasi oleh Allah adalah kunci utama untuk mengusir waswas setan yang seringkali datang saat takbiratul ihram dikumandangkan.

Metode praktis lainnya untuk mencapai khusyu adalah dengan menganggap shalat yang sedang dikerjakan sebagai shalat terakhir di dunia. Perspektif ini akan memaksa jiwa untuk memberikan yang terbaik dan memutuskan segala keterikatan sementara dengan makhluk.

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ