Disiplin ilmu kalam atau teologi Islam merupakan fondasi utama dalam memahami pilar keimanan. Di antara mazhab teologi yang paling representatif dan diikuti oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Dalam metodologi Asy'ariyyah, pengenalan terhadap zat Allah Swt dilakukan melalui pemahaman yang komprehensif terhadap sifat-sifat-Nya. Para ulama merumuskan adanya dua puluh sifat wajib bagi Allah Swt yang dikelompokkan menjadi empat kategori utama, yaitu sifat Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Kajian ini tidak hanya sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konseptualisasi logis-teologis yang memadukan kekuatan dalil naqli (teks wahyu) dan dalil aqli (argumentasi rasional) guna membentengi akidah umat dari syubhat ateisme, agnostisisme, maupun antropomorfisme.
[TEKS ARAB BLOK 1]
Pembahasan mengenai sifat wajib bagi Allah Swt diawali dengan sifat Wujud, yang dikategorikan sebagai satu-satunya sifat Nafsiyyah. Sifat ini menegaskan keberadaan esensi Allah Swt tanpa adanya sebab eksternal yang mewujudkannya. Para ulama mutakallimin menegaskan bahwa wujud Allah adalah zat-Nya itu sendiri, yang tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh kepunahan. Dalil naqli yang sangat kuat mengenai hal ini terdapat dalam Surah Taha ayat empat belas, di mana Allah Swt menyatakan eksistensi diri-Nya secara langsung kepada Nabi Musa Alaihissalam.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Terjemahan dan Tafsir Mendalam Blok 1:
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku. (QS. Taha: 14). Dalam tinjauan tafsir, lafaz Innanī anallāh merupakan penegasan mutlak atas wujud-Nya yang hakiki dan mandiri. Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan fondasi tauhid yang paling mendasar, di mana Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai satu-satunya entitas yang berhak disembah karena wujud-Nya yang mutlak. Secara rasional (aqli), keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hudutsul alam) dan penuh keteraturan ini merupakan bukti tak terbantahkan adanya Sang Pencipta yang bersifat Wujud. Must

