Dalam diskursus teologi Islam (ilm al-kalam), pembahasan mengenai sifat-sifat Allah Swt menempati posisi paling sentral. Sebagai landasan utama keimanan, ma'rifatullah atau mengenal Allah secara benar merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukalaf. Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya mazhab Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan metodologi yang sangat sistematis untuk memahami sifat-sifat Allah melalui klasifikasi Sifat Dua Puluh. Formulasi ini bukanlah bid'ah dalam agama, melainkan sebuah perangkat metodologis (wasilah) yang dirancang untuk menjaga kemurnian tauhid dari dua ekstremitas: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat-sifat Allah). Dengan memadukan dalil naqli (Al-Qur'an dan Sunnah) serta dalil a