Sistem teologi Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, telah menyusun sebuah metodologi yang sangat sistematis dalam memahami hakikat ketuhanan. Metodologi ini dikenal luas sebagai kajian Sifat Dua Puluh. Rumusan ini bukanlah sebuah bid'ah teologis, melainkan sebuah ikhtiar ilmiah untuk memetakan dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah guna membentengi akidah umat dari syubhat pemikiran filsafat helenistik yang ekstrem serta faham antropomorfisme (tasybih/tajsim) maupun negasi sifat (ta'thil). Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah pencapaian kognitif dan spiritual yang mendudukkan akal sehat di bawah bimbingan wahyu. Melalui kajian mendalam ini, kita akan membedah lima klasifikasi utama sifat wajib bagi Allah Swt dengan menyandingkan argumentasi rasional (dalil aqli) dan teks otoritatif (dalil naqli) secara komprehensif.

BLOK KAJIAN SATU: SIFAT WUJUD (EKSISTENSI MUTLAK)

Dalam Artikel

Sifat pertama dan paling mendasar dalam kajian tauhid adalah Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjuk pada esensi (dzat) Allah Swt tanpa adanya tambahan pada dzat tersebut. Secara epistemologis, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan penuh dengan keterbatasan ini mustahil terjadi dengan sendirinya tanpa adanya Pencipta yang Maha Ada secara mutlak dan mandiri (Wajib al-Wujud). Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan akal yang tidak membutuhkan pencipta lain, karena jika Pencipta membutuhkan pencipta lain, maka akan terjadi lingkaran setan tanpa ujung (daur) atau mata rantai tanpa akhir (tasalsul), yang keduanya batil secara logika formal.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ

Terjemahan: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini apa yang mereka katakan. (Surah At-Tur ayat 35-36)

Syarah dan Tafsir Mendalam:

Dalam ayat ini, Allah Swt menantang nalar manusia dengan mengajukan pembagian logis yang sangat ketat (sabr wa taqsim). Ayat ini membatalkan tiga kemungkinan mustahil demi menetapkan satu kebenaran mutlak. Pertama, mustahil sesuatu yang ada (makhluk) muncul dari ketiadaan mutlak tanpa adanya sebab (creatio ex nihilo tanpa pencipta). Kedua, mustahil makhluk menciptakan dirinya sendiri, karena sebelum ia ada, ia tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan apa-apa. Ketiga, mustahil mereka menciptakan langit dan bumi yang begitu megah dan presisi. Ketika ketiga premis tersebut runtuh secara logika, maka secara otomatis akal sehat dipaksa untuk menerima satu-satunya kesimpulan yang logis dan mutlak, yaitu adanya Pencipta yang Maha Esa, yang memiliki sifat Wujud secara hakiki dan mandiri, yang tidak berawal dan tidak berakhir.

BLOK KAJIAN DUO: SIFAT QIDAM DAN BAQA (KEABADIAN TANPA AWAL DAN AKHIR)

Setelah menetapkan Wujud-Nya, para ulama teologi Islam menetapkan sifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Kedua sifat ini masuk dalam kategori Sifat Salbiyyah, yaitu sifat yang berfungsi untuk menolak atau meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Qidam menolak adanya permulaan bagi keberadaan Allah, sedangkan Baqa menolak adanya kepunahan atau akhir bagi eksistensi-Nya. Jika Allah memiliki permulaan, berarti ada waktu di mana Allah tidak ada, dan itu berarti Ia membutuhkan pencipta lain yang mendahului-Nya, sebuah konsep yang mustahil bagi Tuhan. Begitu pula jika Ia memiliki akhir, maka Ia bersifat lemah dan fana seperti makhluk.