Dalam diskursus teologi Islam (Ilmu Kalam), pemahaman terhadap sifat-sifat Allah Swt merupakan pilar terpenting dalam membangun konstruksi akidah yang sahih. Mazhab Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, telah mensistematisasikan sifat-sifat Allah ke dalam kategori Sifat Dua Puluh yang wajib diyakini oleh setiap mukalaf. Formulasi ini bukanlah bid'ah teologis, melainkan sebuah metode epistemologis (manhaj ilmi) untuk mempermudah umat Islam dalam memahami hakikat ketuhanan di tengah gempuran filsafat Yunani dan pemikiran menyimpang seperti Mu'tazilah yang menafikan sifat, serta Mujassimah yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Sifat-sifat wajib ini dikelompokkan secara metodologis menjadi empat kategori: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Analisis berikut akan membedah secara mendalam lima sifat utama di antaranya dengan memadukan pendekatan tekstual (naqli) dan rasional (aqli).
[TEKS ARAB BLOK 1]
Pembahasan dimulai dari sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang merujuk pada esensi (dzat) Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan makna pada dzat tersebut. Sifat ini adalah Al-Wujud (Ada). Secara aqli, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan berubah-ubah (mutaghayyir) secara mutlak membutuhkan adanya Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud (Wajib Adanya). Keberadaan pencipta ini tidak boleh didahului oleh ketiadaan, karena jika pencipta itu baru, maka ia akan membutuhkan pencipta lain, yang akan berujung pada lingkaran setan tanpa akhir (tasalsul) atau perputaran logis yang mustahil (dawr). Dalil naqli mengenai sifat Wujud ini terekam kuat dalam Al-Quran:
قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]
Terjemahan: Rasul-rasul mereka berkata, Apakah ada keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai batas waktu yang ditentukan. (QS. Ibrahim: 10)
Syarah dan Tafsir:
Dalam ayat ini, para rasul menggunakan pertanyaan retoris (istifham inkari) untuk menegaskan bahwa keberadaan Allah Swt adalah sebuah kebenaran aksiomatik (badihi) yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan sedikit pun. Frasa Fatir as-samawati wal-ard (Pencipta langit dan bumi) merupakan argumen kosmologis yang sangat kuat. Kata Fatir mengindikasikan penciptaan dari ketiadaan (al-ibda' 'ala ghairi mitsal sabiq). Secara teologis, keberadaan alam semesta yang teratur ini adalah dalil nyata atas eksistensi Penciptanya. Menurut para mufassir, fitrah manusia yang lurus secara otomatis akan mengakui keberadaan Sang Pencipta ketika menyaksikan keteraturan kosmos. Imam al-Ghazali dalam kitab-kitabnya sering menekankan bahwa sifat Wujud Allah adalah dasar dari segala makrifat, di mana mustahil membayangkan adanya ciptaan tanpa adanya Pencipta yang Mahakuasa dan Maha Ada.
[TEKS ARAB BLOK 2]

