Sistem teologi Islam, khususnya dalam rumusan mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, meletakkan pengenalan terhadap sifat-sifat Allah Swt sebagai fondasi paling fundamental dalam beragama. Pengetahuan ini bukan sekadar doktrin dogmatis, melainkan sebuah konklusi logis-epistemologis yang memadukan antara dalil naqli (wahyu) dan dalil aqli (rasionalitas murni). Para ulama mutakallimin merumuskan dua puluh sifat wajib bagi Allah Swt yang diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: Sifat Nafsiyah, Sifat Salbiyah, Sifat Ma'ani, dan Sifat Ma'nawiyah. Pembagian ini berfungsi untuk mempermudah akal manusia dalam memahami kesempurnaan absolut Khaliq sekaligus menyucikan-Nya dari segala bentuk keterbatasan makhluk. Melalui kajian mendalam ini, kita akan membedah lima pilar utama dari sifat-sifat wajib tersebut menggunakan pisau analisis hermeneutika teks klasik dan teologi rasional.

TEKS ARAB BLOK 1

Dalam Artikel

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Surah Al-Hasyr, Ayat 22)

Syarah dan Tafsir Teologis:

Ayat mulia ini merupakan landasan utama bagi Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan eksistensi diri-Nya sendiri tanpa ada tambahan makna pada zat-Nya, yang diwakili oleh sifat Wujud (Ada). Secara epistemologis, eksistensi Allah Swt bersifat dharuri (pasti) dan wajib al-wujud (mesti adanya). Sifat Wujud ini menjadi basis bagi seluruh sifat-sifat kesempurnaan lainnya. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa keteraturan alam semesta ini secara apriori meniscayakan adanya Pencipta yang Maha Mengetahui (Alim) baik yang gaib maupun yang nyata. Keberadaan alam semesta yang bersifat mungkin al-wujud (boleh ada dan boleh tiada) secara rasional membutuhkan mukhassis (penentu) yang mengeluarkannya dari ketiadaan menuju keberadaan. Sifat Wujud Allah tidak diawali oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh kepunahan, berbeda secara diametral dengan wujud makhluk yang bersifat temporal dan bergantung pada sebab eksternal.

TEKS ARAB BLOK 2

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ