Dalam diskursus teologi Islam (Ilmu Kalam), makrifatullah atau mengenal Allah Swt merupakan kewajiban paling asasi bagi setiap mukalaf. Formulasi sifat-sifat wajib bagi Allah Swt, yang secara metodologis dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi menjadi Sifat Dua Puluh, bukanlah sebuah bidah teologis, melainkan sebuah ikhtiar ilmiah untuk memetakan wahyu ke dalam sistematika berpikir yang rasional dan kokoh. Para ulama mutakallimin membagi sifat-sifat ini ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga kemurnian tauhid dari dua ekstrimitas pemikiran, yaitu tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (menafikan sifat-sifat Allah). Melalui artikel ilmiah ini, kita akan membedah secara mendalam lima pilar utama dari sifat-sifat wajib tersebut dengan merujuk pada teks-teks otoritatif Al-Quran dan syarah para ulama klasik.
Paragraf Penjelasan Indonesia Blok 1:
Pembahasan mengenai sifat wajib Allah Swt harus dimulai dari sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri tanpa adanya tambahan luar. Sifat tersebut adalah Wujud (Ada). Keberadaan Allah Swt adalah sebuah keniscayaan rasional (wajib al-wujud) yang tidak didahului oleh ketiadaan (adam) dan tidak diakhiri oleh kepunahan. Berbeda dengan makhluk yang keberadaannya bersifat mungkin (jaiz al-wujud) dan membutuhkan pencipta, Allah Swt adalah sebab pertama (Al-Illah al-Ula) yang keberadaan-Nya bersifat mutlak. Sifat Wujud ini berkelindan erat dengan sifat Salbiyah pertama, yaitu Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Landasan teologis mengenai eksistensi-Nya yang absolut ini termaktub secara benderang dalam Al-Quran.
تكس عرب بلاك ١:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan & Syarah/Tafsir Indonesia Blok 1:
Terjemahan: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surah Al-Hadid: 3)
Syarah dan Tafsir Mendalam:
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan fondasi utama dalam memahami keabadian dan keawalan Allah Swt. Ketika menafsirkan Al-Awwal, para ulama menetapkan bahwa Allah Swt telah ada sebelum segala sesuatu diciptakan, tanpa ada batas permulaan waktu bagi keberadaan-Nya. Ini adalah penegasan sifat Qidam. Sementara Al-Akhir menegaskan bahwa Allah Swt tetap ada setelah seluruh makhluk fana, yang merujuk pada sifat Baqa. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menambahkan bahwa pemahaman terhadap ayat ini mengantarkan jiwa manusia pada kesadaran bahwa seluruh alam semesta hanyalah bayang-bayang dari wujud hakiki Allah Swt. Secara epistemologis, ayat ini juga meruntuhkan teori regressus ad infinitum (tasalsul) dan sirkularitas penciptaan (daur) dalam filsafat, karena menuntut adanya satu titik awal yang mutlak, yaitu Zat yang Maha Awal tanpa permulaan.

