Kita hari ini hidup di era di mana jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran, dan amarah sering kali mendahului tabayun. Media sosial yang sejatinya diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, justru kerap menjadi panggung pertunjukan ego, tempat di mana perbedaan pendapat tidak lagi disikapi sebagai rahmat, melainkan sebagai bahan bakar untuk saling membakar. Polarisasi sosial merayap masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan umat, merusak silaturahmi yang telah dipupuk bertahun-tahun hanya karena perbedaan pilihan politik, mazhab, atau pandangan sosial. Fenomena ini menuntut kita untuk merenung kembali: di manakah letak akhlak kita saat berbeda pandangan?

Dalam kacamata Islam, perbedaan atau ikhtilaf adalah sebuah keniscayaan sejarah dan sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Allah Subhanahu wa Ta'ala sengaja menciptakan manusia dengan latar belakang, tingkat kecerdasan, dan kecenderungan yang berbeda agar mereka saling mengenal dan melengkapi. Ketunggalan mutlak hanya milik Sang Pencipta, sementara makhluk-Nya ditakdirkan untuk senantiasa dinamis dalam keragaman. Allah menegaskan hal ini dalam Al-Qur'an:

Dalam Artikel

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Artinya: Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Ayat ini mendidik kita untuk menerima perbedaan sebagai bagian dari desain besar penciptaan, bukan sebagai anomali yang harus dimusnahkan dengan kebencian.

Sayangnya, yang kita saksikan hari ini adalah hilangnya adab sebelum ilmu. Debat kusir tanpa dasar keilmuan yang kokoh menjamur di ruang publik digital. Orang-orang begitu mudah melabeli saudaranya yang berbeda pandangan dengan sebutan sesat, bodoh, atau bahkan keluar dari koridor keimanan. Keberanian berbicara tanpa ilmu dan etika ini telah meruntuhkan wibawa intelektual umat Islam. Padahal, para ulama terdahulu mengajarkan bahwa menjaga kehormatan sesama Muslim jauh lebih utama daripada memenangkan sebuah perdebatan yang tidak menghasilkan kemaslahatan nyata bagi umat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memberikan peringatan keras sekaligus motivasi spiritual bagi mereka yang mampu menahan diri dari debat yang tidak produktif. Dalam sebuah hadis, beliau menjanjikan kedudukan mulia di surga bagi orang yang bersedia mengalah demi menjaga kedamaian, sekalipun ia berada di pihak yang benar. Beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Artinya: Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar. Tuntunan luhur ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati dalam Islam bukanlah saat kita berhasil menjatuhkan lawan bicara, melainkan saat kita mampu menundukkan ego pribadi demi tegaknya ukhuwah islamiyah.

Merujuk pada sejarah emas keilmuan Islam, kita melihat bagaimana para imam mazhab mencontohkan keluhuran budi dalam menyikapi perbedaan. Imam Syafi'i pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap tawadhu seperti inilah yang membuat perbedaan pendapat di masa lalu justru melahirkan khazanah intelektual yang kaya dan penuh berkah. Mereka berdebat di ruang ilmiah dengan argumen yang kokoh, namun tetap saling berpelukan dan mendoakan di mihrab masjid saat waktu salat tiba.