Sistem teologi Islam, khususnya dalam rumusan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, memberikan perhatian yang sangat besar pada metodologi pengenalan zat dan sifat Allah Swt. Kajian ini dikenal sebagai ilmu tauhid atau ilmu kalam. Salah satu formulasi paling sistematis yang lahir dari rahim tradisi keilmuan ini adalah konsep Sifat Wajib Dua Puluh. Sifat-sifat ini diklasifikasikan menjadi empat kategori utama, yaitu nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah. Penyusunan ini bukan bertujuan membatasi kesempurnaan Allah yang sejatinya tidak terbatas, melainkan sebagai panduan metodologis bagi akal manusia agar tidak tergelincir ke dalam jurang tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk) atau ta'til (menafikan sifat-sifat Allah). Mel
Formulasi Teologis Sifat Wajib Dua Puluh: Analisis Epistemologis Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah Berdasarkan Dalil Naqli dan Aqli
Redaksi
12-06-2026 • 20 : 20 WIB
•
8989 Views
Ilustrasi: Formulasi Teologis Sifat Wajib Dua Puluh: Analisis Epistemologis Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah Berdasarkan Dalil Naqli dan Aqli
