Pernah gak sih kamu lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram, terus tiba-tiba dada ngerasa sesak? Kamu melihat teman seangkatan sudah dapet kerjaan keren di SCBD, ada yang liburan ke Jepang, atau bahkan ada yang posting foto nikah estetik. Seketika pikiran langsung traveling kemana-mana, muncul pertanyaan, Aku ini kurang usaha apa ya? Kok hidupku gini-gini aja?

Fenomena ini akrab banget disebut FOMO alias Fear of Missing Out, yang berujung pada overthinking parah. Di era pop culture yang serba cepat ini, kesehatan mental kita sering banget diuji oleh standar kesuksesan orang lain yang berseliweran di layar HP. Tapi tenang, sebagai Muslim muda, kita punya cara self-healing terbaik yang gak cuma bikin tenang di dunia, tapi juga dapet pahala.

Dalam Artikel

Poin 1: Jauhi Jebakan Comparison Culture dengan Konsep Qana'ah

Masalah terbesar generasi kita saat ini adalah comparison culture atau hobi membandingkan diri. Kita sering lupa kalau apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah highlight reel alias bagian terbaiknya saja, bukan proses jatuh bangun di belakang layar. Dalam Islam, kita diajarkan untuk memiliki sifat qana'ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

Ketika pikiran mulai berisik dan hati mulai gelisah karena merasa tertinggal, cobalah untuk rehat sejenak, tarik napas dalam-dalam, dan ingatlah ayat ini:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28)

Mengingat Allah lewat zikir atau sekadar menyadari bahwa takdir kita sudah diatur dengan sangat presisi adalah obat paling ampuh buat meredakan badai di kepala kita.

Poin 2: Detoks Digital dan Amalkan Doa Anti-Cemas