Sistem teologi Islam, khususnya dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, telah merumuskan sebuah metodologi yang sangat sistematis dalam memahami pencipta. Formulasi ini dikenal luas sebagai Sifat Dua Puluh. Pengenalan terhadap sifat-sifat wajib bagi Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual yang memadukan antara kejernihan wahyu (dalil naqli) dan ketajaman logika (dalil aqli). Para ulama mutakallimin merumuskan sifat-sifat ini untuk menjaga kemurnian tauhid dari dua ekstremitas: tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk) dan ta'til (meniadakan sifat-sifat Allah). Melalui kajian mendalam ini, kita akan membedah lima klasifikasi utama dari sifat-sifat wajib tersebut beserta argumentasi teks dan rasional yang melandasinya.

Sifat pertama yang menjadi fondasi dari seluruh teologi Islam adalah Al-Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang dengannya zat Allah ada, di mana akal tidak dapat membayangkan zat tanpa adanya sifat ini. Secara epistemologis, keberadaan alam semesta yang bersifat baharu (hadits) dan penuh dengan keteraturan merupakan bukti mutlak eksistensi Sang Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud (Wajib Adanya). Keberadaan Allah tidak didahului oleh tiada dan tidak diakhiri oleh kepunahan. Dalil mengenai eksistensi-Nya digambarkan secara retoris dalam Al-Quran untuk menggugah kesadaran intelektual manusia.

Dalam Artikel

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Terjemahan: Rasul-rasul mereka berkata, Apakah ada keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi? (Surah Ibrahim: 10)

Syarah dan Tafsir Mendalam:

Dalam ayat ini, para rasul melempar pertanyaan retoris yang menegaskan bahwa keberadaan Allah Swt adalah sebuah kebenaran aksiomatis (badihiyyah) yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan bagi akal yang sehat. Kata fatir yang berarti pencipta dari ketiadaan menunjukkan bahwa alam semesta ini memiliki titik awal (huduth). Berdasarkan hukum kausalitas, setiap yang baru pasti membutuhkan pencipta (muhdits). Jika alam semesta ini ada, maka penciptanya haruslah ada terlebih dahulu secara mutlak. Ulama tafsir menjelaskan bahwa kesangsian terhadap eksistensi Allah hanya muncul akibat debu-debu syubhat yang menutupi fitrah manusia. Sifat Wujud ini menjadi pembuka dari seluruh rangkaian makrifatullah, karena mustahil membicarakan sifat-sifat kesempurnaan lainnya tanpa menetapkan eksistensi zat yang disifati terlebih dahulu.

Setelah menetapkan sifat Wujud, para ulama beralih pada pembahasan Sifat Salbiyyah. Sifat Salbiyyah adalah sifat yang berfungsi untuk menolak atau meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Di antara sifat salbiyyah yang paling mendasar adalah Al-Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Al-Baqa (Kekal tanpa akhir). Kedua sifat ini menegaskan bahwa Allah Swt berada di luar dimensi ruang dan waktu yang mengikat makhluk. Allah tidak memiliki titik awal eksistensi dan tidak akan pernah mengalami kepunahan atau perubahan.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surah Al-Hadid: 3)