Dalam diskursus teologi Islam (Ilmu Kalam), pemahaman terhadap eksistensi dan otoritas ketuhanan merupakan fondasi utama yang menentukan validitas seluruh bangunan syariat. Para ulama mazhab Asy-ariyah dan Maturidiyah, sebagai representasi utama Ahlus Sunnah wal Jamaah, telah merumuskan metodologi yang sangat sistematis untuk memahami pencipta melalui formulasi Sifat-Sifat Wajib bagi Allah Swt. Formulasi ini tidak dilahirkan dari ruang hampa, melainkan hasil dari dialektika ilmiah yang mempertemukan antara wahyu (dalil naqli) yang absolut dan penalaran akal sehat (dalil aqli) yang jernih. Kajian ini bertujuan untuk mengurai esensi dari sifat-sifat tersebut guna membentengi umat dari pemahaman yang keliru, baik yang terjebak dalam penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tashbih/tajsim) maupun penafian sifat-sifat Tuhan (ta'til). Melalui rekonstruksi metodologis ini, kita akan melihat bagaimana para ulama terdahulu menyusun sistematika berpikir yang kokoh demi menjaga kemurnian tauhid.
Sifat pertama yang menjadi fondasi dari seluruh sifat ketuhanan adalah Al-Wujud (Ada). Secara epistemologis, wujud Allah adalah wujud yang hakiki, bersifat wajib (Wajib al-Wujud), yang berarti keberadaan-Nya tidak didahului oleh tiada dan tidak diakhiri oleh kepunahan. Berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mungkin (Mumkin al-Wujud) karena keberadaannya bergantung pada pencipta. Para teolog Muslim menggunakan argumentasi kebaruan alam (huduth al-alam) untuk membuktikan eksistensi ini. Setiap yang baru pasti membutuhkan pencipta yang mengadakannya, dan pencipta tersebut haruslah memiliki sifat wujud yang mandiri. Hal ini secara tegas diabadikan dalam teks-teks wahyu yang mengarahkan akal manusia untuk merenungi penciptaan semesta alam.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
Terjemahan: Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Surah As-Sajdah: 4).
Syarah dan Tafsir Mendalam:
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Al-Qurtubi dalam kitab Al-Jami' li Ahkam al-Quran menegaskan bahwa penyebutan penciptaan langit, bumi, dan ruang di antara keduanya merupakan dalil empiris yang tidak terbantahkan mengenai wujud-Nya. Kata "khalaqa" (menciptakan) mengindikasikan adanya tindakan pengadaan dari ketiadaan (al-ijad minal adam). Secara rasional, sebuah keteraturan kosmik yang presisi tidak mungkin terjadi secara kebetulan tanpa adanya Pengatur yang Maha Ada. Adapun lafal "istawa ala al-arsy", para ulama tafsir mu'tabar dari kalangan salaf dan khalaf sepakat untuk menjauhkannya dari makna fisik (jismiah). Kaum salaf memilih jalan tafwid (menyerahkan maknanya kepada Allah dengan meyakini kesucian-Nya

