Disiplin ilmu hadits dan akidah menempatkan Hadits Jibril sebagai Ummus Sunnah atau induk dari seluruh ajaran sunnah karena mencakup fondasi agama yang utuh. Dalam diskursus ini, kita akan membedah pilar ketiga yaitu Ihsan, sebuah tingkatan yang melampaui sekadar formalitas syariat menuju kedalaman hakikat. Ihsan bukan sekadar berbuat baik dalam pengertian etika sosial, melainkan sebuah kondisi ontologis di mana seorang hamba menyadari keberadaan Sang Khalik dalam setiap partikel ruang dan waktu. Secara metodologis, para ulama membagi Ihsan menjadi dua tingkatan utama yang bersumber langsung dari redaksi sabda Rasulullah SAW saat menjawab pertanyaan Malaikat Jibril di hadapan para sahabat.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ مِنْ حَدِيثِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَهَذَا الْقَدْرُ مِنَ الْحَدِيثِ هُوَ أَصْلٌ عَظِيمٌ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ، وَقَاعِدَةٌ جَلِيلَةٌ مِنْ قَوَاعِدِ الْمُسْلِمِينَ، وَهُوَ يَتَضَمَّنُ مَقَامَيْنِ: مَقَامَ الْمُشَاهَدَةِ وَمَقَامَ الْمُرَاقَبَةِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Malaikat Jibril bertanya: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Rasulullah SAW menjawab: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini mengandung dua derajat spiritual yang sangat fundamental. Derajat pertama adalah Maqam Mushahadah (penyaksian), yakni seorang hamba beribadah dengan hati yang dipenuhi cahaya makrifat sehingga seakan-akan tabir antara dirinya dan Allah tersingkap. Derajat kedua adalah Maqam Muraqabah (pengawasan), yang menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi segala gerak-gerik lahiriah maupun lintasan batiniahnya.
Tingkatan pertama yang disebutkan oleh Rasulullah SAW, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, merupakan puncak dari kemurnian iman. Dalam tinjauan epistemologi Islam, ini disebut sebagai syuhudul qalb. Hati yang telah suci dari ketergantungan kepada makhluk akan sampai pada titik di mana keagungan Allah mendominasi kesadarannya. Hal ini bukan berarti melihat Dzat Allah dengan mata kepala di dunia, karena hal itu mustahil secara syar'i dan akal, melainkan melihat jejak kebesaran-Nya dengan mata batin yang tajam.
هَذَا هُوَ مَقَامُ الْمُشَاهَدَةِ، وَهُوَ أَنْ يَنْوِرَ الْقَلْبُ بِنُورِ الْإِيمَانِ، وَتَنْفُذَ الْبَصِيرَةُ فِي مَعْرِفَةِ اللهِ حَتَّى كَأَنَّ الْعَبْدَ يُشَاهِدُ رَبَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِقَلْبِهِ. وَهَذَا يُورِثُ الْخَشْيَةَ وَالْهَيْبَةَ وَالتَّعْظِيمَ، كَمَا يُورِثُ الْأُنْسَ بِاللهِ وَالْحَيَاءَ مِنْهُ، وَتَصْفِيَةَ الْأَعْمَالِ مِنْ كُلِّ شَائِبَةٍ مِنْ شَوَائِبِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Inilah yang disebut Maqam Mushahadah, yaitu kondisi di mana hati diterangi oleh cahaya iman, dan bashirah (mata batin) menembus makrifatullah hingga seolah-olah hamba tersebut menyaksikan Tuhannya dengan hatinya. Kondisi ini akan melahirkan rasa khasyyah (takut yang didasari ilmu), haibah (kewibawaan Ilahi), dan ta'dzim (pengagungan). Lebih jauh lagi, maqam ini menumbuhkan rasa rindu dan kenyamanan dalam ber-khalwat dengan Allah, serta rasa malu yang mendalam, sehingga seluruh amal ibadah bersih dari noda riya (pamer) maupun sum'ah (ingin didengar orang lain). Ini adalah tingkatan para Shiddiqin yang telah fana dari selain Allah.
Namun, jika seorang hamba belum mampu mencapai derajat Mushahadah karena lemahnya bashirah atau banyaknya hijab duniawi, maka ia diperintahkan untuk masuk ke dalam derajat kedua, yaitu Muraqabah. Kesadaran bahwa Allah melihat kita adalah benteng pertahanan terakhir dari kemaksiatan. Secara psikologis-teologis, Muraqabah menciptakan disiplin diri yang sangat kuat. Seorang mukmin tidak akan berani melakukan kemaksiatan di tempat tersembunyi sekalipun, karena ia yakin bahwa pandangan Allah mendahului pandangan manusia.

