Pencapaian spiritual tertinggi dalam Islam bukan sekadar menjalankan rukun lahiriah, melainkan mencapai derajat ihsan yang menyatukan kesadaran batin dengan pengawasan Ilahi. Dalam diskursus akidah dan tafsir, para ulama memberikan perhatian besar pada janji Allah bagi hamba-hamba-Nya yang telah mencapai tingkat kebaikan sempurna ini. Salah satu janji yang paling agung adalah al-ziyadah atau tambahan, yang oleh mayoritas mufassir diartikan sebagai kesempatan untuk melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di surga. Hal ini menjadi titik temu antara amal perbuatan manusia di dunia dengan balasan yang melampaui segala kenikmatan fisik di akhirat.

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus: 26). Dalam ayat ini, para ulama tafsir seperti Imam Ath-Thabari dan Ibnu Katsir menekankan bahwa frasa al-husna merujuk pada Al-Jannah (surga) sebagai balasan atas amal saleh. Namun, yang menjadi inti pembahasan mendalam adalah kata wa ziyadah (dan tambahannya). Berdasarkan hadis sahih, tambahan tersebut adalah an-nazharu ila wajhillah al-karim (melihat Wajah Allah yang Mulia). Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan di surga memiliki tingkatan, di mana puncak tertingginya adalah kenikmatan teofani yang bersifat ruhani dan maknawi, yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan material manapun.

Derajat ihsan yang menjadi syarat untuk mendapatkan tambahan ini dijelaskan secara definitif dalam hadis yang sangat masyhur, yang dikenal sebagai Hadis Jibril. Hadis ini merupakan fondasi utama dalam memahami bagaimana seorang mukmin seharusnya berinteraksi dengan Tuhannya, baik dalam kondisi sendirian maupun di tengah keramaian.

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dia (Jibril) bertanya: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Rasulullah SAW menjawab: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim). Secara analitis, hadis ini membagi ihsan menjadi dua tingkatan. Tingkat pertama adalah maqamul musyahadah, yaitu kondisi di mana hati seorang hamba dipenuhi dengan makrifat sehingga seakan-akan ia menyaksikan Allah secara langsung dalam ibadahnya. Tingkat kedua adalah maqamul muraqabah, yaitu kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya. Hubungan antara hadis ini dengan ayat sebelumnya sangat erat: barangsiapa yang berusaha melihat-Nya dengan mata hati (bashirah) di dunia, maka Allah akan memberikan kemuliaan untuk melihat-Nya dengan mata kepala (bashar) di akhirat.

Kepastian mengenai peristiwa ru’yatullah (melihat Allah) di akhirat merupakan salah satu pilar akidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang membedakannya dengan kelompok Mu'tazilah. Landasan argumentasinya bukan hanya berdasarkan logika, melainkan nash-nash yang bersifat qath’i (pasti). Rasulullah SAW menjelaskan proses tersingkapnya hijab ini dengan sangat detail dalam sebuah riwayat yang menggetarkan jiwa.

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Apakah kalian menginginkan sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian? Mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Maka Allah pun menyingkap hijab (penutup). Maka tidak ada sesuatu yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Tuhan mereka Azza wa Jalla. (HR. Muslim). Syarah hadis ini menjelaskan bahwa meskipun penduduk surga telah mendapatkan segala kemewahan, mereka merasakan adanya kerinduan yang belum tuntas hingga hijab tersebut dibuka. Ini membuktikan bahwa zat Allah dapat dilihat oleh orang mukmin di akhirat tanpa kaifiyah (bagaimana caranya) yang menyerupai makhluk, dan tanpa pembatasan ruang (tahyiz) sebagaimana pandangan kita di dunia.