Perjalanan spiritual seorang hamba menuju Rabb-nya merupakan esensi dari penciptaan manusia. Dalam diskursus keilmuan Islam, pencapaian tertinggi seorang mukmin tidak hanya berhenti pada tataran formalitas syariat (Islam) maupun keteguhan fondasi teologis (Iman), melainkan memuncak pada derajat Ihsan. Ihsan merupakan ruh dari setiap amal, yang mengubah gerakan lahiriah menjadi ibadah yang bernyawa. Para ulama mufassir dan muhaddits telah mencurahkan perhatian besar untuk membedah bagaimana kesadaran akan kehadiran Allah dalam ibadah di dunia akan berbuah pada kenikmatan memandang Zat-Nya di akhirat kelak. Analisis ini akan membedah keterkaitan antara perilaku ihsan di dunia dengan janji ziyadah atau tambahan nikmat di surga melalui pendekatan teks-teks otoritatif.

TEKS ARAB BLOK 1

Dalam Artikel

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَدِيثِ جِبْرِيلَ الطَّوِيلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. رواه مسلم

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu dalam hadits Jibril yang panjang, dia bertanya: Maka kabarkanlah kepadaku tentang Ihsan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (Riwayat Muslim). Hadits ini merupakan fondasi utama dalam ilmu akhlak dan tasawuf sunni. Rasulullah membagi Ihsan menjadi dua tingkatan utama. Tingkat pertama adalah Maqam al-Mushahadah, yaitu kondisi di mana hati seorang hamba dipenuhi oleh makrifat kepada Allah sehingga seolah-olah dia melihat-Nya secara langsung. Ini adalah derajat tertinggi dalam ibadah. Tingkat kedua adalah Maqam al-Muraqabah, yakni kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba. Jika seorang hamba belum mampu mencapai visualisasi batiniah akan keagungan Allah, maka dia harus meyakini pengawasan Allah yang absolut atas dirinya.

TEKS ARAB BLOK 2

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. سورة يونس: ٢٦

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2

Bagi orang-orang yang berbuat baik (ihsan), ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Surah Yunus: 26). Secara linguistik, kata Al-Husna dalam ayat ini ditafsirkan oleh mayoritas mufassir sebagai Al-Jannah atau surga. Namun, yang menjadi titik tekan para ulama adalah kata wa ziyadah (dan tambahannya). Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dan Imam Ibnu Katsir menukil riwayat dari para sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa yang dimaksud dengan tambahan tersebut bukanlah sekadar fasilitas surga, melainkan nikmat melihat wajah Allah yang mulia. Ayat ini mengonfirmasi bahwa balasan bagi mereka yang mempraktikkan Ihsan di dunia adalah pemberian yang melampaui ekspektasi material surga itu sendiri.