Shalat merupakan tiang agama yang menjadi barometer utama amal ibadah seorang hamba di akhirat kelak. Namun, shalat bukan sekadar gerakan mekanis atau rutinitas lisan tanpa makna. Ruh dari shalat adalah khusyu, sebuah kondisi di mana hati, pikiran, dan raga menyatu dalam ketundukan mutlak kepada Sang Khalik. Secara etimologis, khusyu bermakna ketenangan, ketundukan, dan kerendahan hati. Tanpa khusyu, shalat ibarat jasad tanpa nyawa. Para ulama salaf menekankan bahwa pencapaian khusyu memerlukan latihan intelektual melalui pemahaman teks dan latihan spiritual melalui kehadiran hati (hudhurul qalb). Berikut adalah bedah mendalam mengenai landasan dan tata cara meraih khusyu berdasarkan sumber otoritatif Islam.
Langkah pertama dalam memahami khusyu adalah merujuk pada firman Allah dalam Al-Quran yang mengaitkan keberuntungan seorang mukmin dengan kualitas shalatnya. Khusyu bukan sekadar anjuran, melainkan kriteria utama bagi mereka yang akan mewarisi surga Firdaus. Penjelasan ini ditegaskan dalam pembukaan Surah Al-Mu'minun.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
Terjemahan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (QS. Al-Mu'minun: 1-3).
Syarah Tafsir: Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa khusyu dalam ayat ini mencakup rasa takut kepada Allah (al-khauf) dan ketenangan anggota tubuh (as-sukun). Makna Al-Falah (keberuntungan) di sini adalah pencapaian cita-cita tertinggi dan keselamatan dari hal yang ditakuti. Khusyu dihasilkan dari kesadaran penuh bahwa seseorang sedang berdiri di hadapan Rabbul Alamin, sehingga hatinya merasa kerdil dan fokusnya tidak terbagi kepada urusan duniawi yang fana (al-laghwu).
Setelah memahami landasan teologis dari Al-Quran, kita harus menelaah dimensi ihsan dalam shalat. Khusyu sangat berkaitan erat dengan maqam Ihsan, yaitu sebuah kesadaran transendental di mana seorang hamba merasa diawasi secara langsung oleh Allah. Hal ini dijelaskan dalam hadits Jibril yang sangat masyhur mengenai tingkatan agama.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemahan: Dia (Jibril) berkata: Beritahukan kepadaku tentang Ihsan. Rasulullah SAW menjawab: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim).
Syarah Hadits: Hadits ini merupakan pondasi psikologi ibadah. Dalam konteks shalat, seorang mushalli (orang yang shalat) dituntut untuk menghadirkan perasaan Muraqabah (merasa diawasi). Jika seseorang menyadari bahwa Sang Pencipta semesta sedang menatap setiap gerak-gerik dan getaran hatinya, maka secara otomatis anggota tubuhnya akan tenang (tumaninah) dan pikirannya tidak akan melayang ke pasar, pekerjaan, atau urusan domestik lainnya. Inilah esensi khusyu yang bersumber dari makrifatullah.

