Dalam khazanah keilmuan Islam, kedudukan niat menempati posisi yang sangat fundamental, bahkan para ulama menyebutnya sebagai sepertiga dari ilmu. Urgensi niat bukan sekadar formalitas dalam memulai ibadah, melainkan ruh yang menentukan diterima atau tidaknya suatu amal di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Secara epistemologis, niat menghubungkan antara dimensi lahiriah perbuatan dengan dimensi batiniah kesadaran. Imam al-Bukhari meletakkan hadis tentang niat di pembukaan kitab Shahih-nya sebagai isyarat bahwa setiap pencari ilmu dan pelaku amal harus memurnikan orientasinya hanya kepada al-Haq. Kajian ini akan mengurai secara hermeneutik dan yuridis mengenai teks hadis monumental yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَهْ الْبُخَارِيُّ وَأَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيُّ النَّيْسَابُوْرِيُّ فِي صَحِيْحَيْهِمَا اللَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ.

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah: Dari Amirul Mukminin, Abi Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya segala amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu menuju apa yang ia tuju tersebut. Secara semantik, penggunaan kata Innama dalam teks ini berfungsi sebagai Adatul Hashr atau alat pembatasan. Artinya, nilai suatu amal secara syar'i benar-benar terkurung dan terbatas pada kualitas niatnya. Tanpa niat yang benar, sebuah perbuatan hanya akan menjadi gerakan mekanis yang hampa dari nilai ukhrawi. Para fukaha menggunakan penggalan hadis ini sebagai basis kaidah fiqih Al-Umuru bi Maqashidiha, yang menegaskan bahwa status hukum suatu perkara ditentukan oleh tujuannya.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَالنِّيَّةُ فِي اللُّغَةِ هِيَ الْقَصْدُ وَالْإِرَادَةُ، وَفِي الشَّرْعِ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ. وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ، فَلَا يُشْتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا فِي صِحَّةِ الْعِبَادَاتِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ، بَلِ التَّلَفُّظُ بِهَا مُسْتَحَبٌّ لِيُوَافِقَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ عِنْدَ بَعْضِ الشَّافِعِيَّةِ. وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْجُمْلَتَيْنِ فِي الْحَدِيْثِ أَنَّ الْأُوْلَى لِبَيَانِ الصِّحَّةِ وَالثَّانِيَةِ لِبَيَانِ الثَّوَابِ.

Terjemahan dan Syarah: Sesungguhnya amal itu dengan niat dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkan. Niat secara bahasa adalah al-qashdu (maksud) dan al-iradah (kehendak). Secara terminologi syariat, niat adalah menyengaja melakukan sesuatu yang dibarengi dengan perbuatannya. Letak niat adalah di dalam hati, sehingga tidak disyaratkan melafalkannya dalam sahnya ibadah menurut mayoritas ulama. Bahkan, pelafalan niat dianggap mustahab (disukai) oleh sebagian ulama Syafi'iyah hanya untuk membantu lisan menyelaraskan hati. Analisis mendalam menunjukkan adanya perbedaan fungsional antara kalimat pertama dan kedua dalam hadis ini. Kalimat pertama (Innamal a'malu bin niyat) berfungsi untuk menjelaskan sah atau tidaknya suatu amal secara legal-formal (fiqih), sedangkan kalimat kedua (wa innama likullimri-in ma nawa) menjelaskan tentang perolehan pahala dan balasan di akhirat (akidah). Hal ini menunjukkan bahwa seorang mukallaf bisa saja melakukan amal yang secara fiqih sah, namun tidak bernilai pahala karena kerusakan niatnya.

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ. هَذَا يَدُلُّ عَنْ كَمَالِ الْإِخْلَاصِ. وَذِكْرُ اللهِ وَرَسُولِهِ فِي جَوَابِ الشَّرْطِ بِلَفْظِ الْمُبْتَدَإِ تَعْظِيْمًا وَتَفْخِيْمًا لِشَأْنِ هَذِهِ الْهِجْرَةِ. وَالْهِجْرَةُ فِي الْأَصْلِ هِيَ التَّرْكُ، وَفِي الشَّرْعِ الِانْتِقَالُ مِنْ دَارِ الْكُفْرِ إِلَى دَارِ الْإِسْلَامِ خَوْفًا مِنَ الْفِتْنَةِ وَرَغْبَةً فِي إِظْهَارِ الدِّيْنِ. وَهِيَ بَاقِيَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِمَعْنَى هِجْرَةِ الذُّنُوْبِ وَالْمَعَاصِي.

Terjemahan dan Syarah: Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalimat ini menunjukkan kesempurnaan ikhlas. Penyebutan kembali nama Allah dan Rasul-Nya dalam kalimat jawaban syarat dengan lafaz yang sama berfungsi sebagai Ta'dzim (pengagungan) dan Tafkhim (pemujaan) terhadap kemuliaan hijrah tersebut. Secara etimologi, hijrah berarti meninggalkan. Secara syariat, hijrah adalah berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam karena takut akan fitnah agama dan keinginan untuk menampakkan syiar Islam. Meskipun secara historis hijrah dari Mekkah ke Madinah telah berakhir, namun esensi hijrah tetap berlaku hingga hari kiamat dalam bentuk hijrah maknawi, yaitu meninggalkan dosa dan kemaksiatan. Di sini, niat menjadi pembeda utama antara seseorang yang berpindah tempat karena alasan ekonomi dengan seseorang yang berpindah tempat karena menjaga integritas iman.

وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. وَلَمْ يُعِدْ ذِكْرَ مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ بِلَفْظِهِ كَمَا فَعَلَ فِي جَانِبِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ، بَلْ أَتَى بِضَمِيْرِ التَّحْقِيْرِ لِمَا نَوَاهُ مِنَ الدُّنْيَا وَالْمَرْأَةِ، لِأَنَّ الدُّنْيَا دَنِيَّةٌ وَزَائِلَةٌ. وَهَذَا الْقِسْمُ يُبَيِّنُ خُطُوْرَةَ الرِّيَاءِ وَالتَّشْرِيْكِ فِي النِّيَّةِ، حَيْثُ يَصِيْرُ الْعَمَلُ الْعَظِيْمُ هَبَاءً مَنْثُوْرًا بِسَبَبِ فَسَادِ الْقَصْدِ.

Terjemahan dan Syarah: Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu menuju apa yang ia tuju tersebut. Perhatikan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengulang lafaz dunia atau wanita pada bagian jawaban syarat, melainkan menggunakan kata ganti yang bersifat merendahkan (ila ma hajara ilaihi). Hal ini mengandung isyarat balaghah bahwa tujuan duniawi adalah sesuatu yang rendah, fana, dan tidak layak disandingkan dengan kemuliaan Allah dan Rasul-Nya. Dalam tinjauan akidah, bagian ini memperingatkan bahaya riya dan tasyrik (menyekutukan niat). Sebuah amal yang secara lahiriah tampak sebagai ibadah besar, seperti hijrah, dapat berubah menjadi debu yang beterbangan jika motivasi utamanya adalah kepentingan pragmatis-materialistik. Imam Ibnul Qayyim menegaskan bahwa niat adalah ruh dari amal, dan amal tanpa niat yang tulus laksana tubuh tanpa nyawa.