Dalam diskursus teologi Islam (Ilmu Kalam) dan tafsir Al-Quran, salah satu puncak pencapaian spiritual yang menjadi dambaan setiap mukmin adalah kesempatan untuk menatap Zat Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak. Fenomena ini dalam terminologi akidah disebut sebagai Ru’yatullah. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat bahwa melihat Allah adalah sebuah keniscayaan bagi penghuni surga, yang didasarkan pada dalil-dalil qath’i baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah yang mutawatir. Pemahaman ini bukan sekadar masalah eskatologis, melainkan berkaitan erat dengan kualitas penghambaan seseorang selama di dunia, yang dirangkum dalam konsep Ihsan. Mari kita bedah secara mendalam melalui teks-teks otoritatif berikut ini.
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya (QS. Yunus: 26). Dalam ayat ini, kata Al-Husna ditafsirkan oleh mayoritas mufassir, termasuk Ibnu Jarir At-Tabari dan Ibnu Kathir, sebagai Al-Jannah (Surga). Namun, yang menjadi titik tekan keilmuan adalah kata Wa Ziyadah (dan tambahannya). Secara linguistik, ziyadah berarti tambahan atas sesuatu yang sudah sempurna. Berdasarkan riwayat sahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, tambahan yang dimaksud bukanlah sekadar kenikmatan fisik surga, melainkan kenikmatan memandang Wajah Allah yang Maha Mulia. Ini menunjukkan bahwa puncak kebahagiaan bukanlah pada fasilitas surga, melainkan pada perjumpaan dengan Sang Pencipta.
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan bagi kalian? Mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Rasulullah bersabda: Maka Allah menyingkap hijab (penutup), dan tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Tuhan mereka Azza wa Jalla (HR. Muslim). Hadis ini merupakan syarah (penjelasan) langsung terhadap ayat dalam Surah Yunus di atas. Secara teologis, hadis ini meruntuhkan argumen kelompok yang menafikan ru'yatullah dengan alasan kemustahilan akal. Rasulullah menggunakan diksi fayaksyifu al-hijab (maka dibukalah tabir) yang mengisyaratkan bahwa penghalang utama manusia melihat Allah di dunia bukanlah karena ketiadaan Zat-Nya, melainkan karena keterbatasan indra manusia di alam materi yang terhijab oleh dimensi keduniawian.
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang dahsyat (QS. Al-Qiyamah: 22-25). Analisis gramatikal (i'rab) pada ayat ini sangat krusial. Kata nadhirah (dengan huruf dhad) berarti cerah atau berseri, sedangkan nadhirah (dengan huruf dha) yang diikuti huruf jar ila menunjukkan aktivitas melihat dengan mata kepala (ru'yah al-bashar). Jika kata nadhara tidak diikuti huruf jar, ia bisa berarti menunggu, namun dalam konteks ayat ini, penggunaan ila rabiha nadhirah memastikan bahwa maknanya adalah melihat langsung ke arah Tuhan. Imam Asy-Syafi'i menyatakan bahwa jika Allah menghijab diri-Nya dari orang-orang kafir saat mereka dalam kemurkaan-Nya, maka ini adalah dalil bahwa para kekasih-Nya akan melihat-Nya saat mereka dalam keridaan-Nya.
قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dia (Jibril) bertanya: Maka kabarkanlah kepadaku tentang Ihsan. Beliau (Rasulullah) menjawab: Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu (HR. Muslim). Teks ini merupakan fondasi akhlak dan tasawuf yang berkaitan erat dengan Ru’yatullah. Para ulama menjelaskan adanya korelasi antara "ibadah seakan-akan melihat Allah" (maqam musyahadah) di dunia dengan "melihat Allah secara nyata" di akhirat. Barangsiapa yang mengasah mata hatinya untuk senantiasa merasa hadir di hadapan Allah dalam setiap sujud dan amalnya, maka Allah akan memberikan balasan yang setimpal (al-jaza' min jinsil 'amal) berupa penglihatan yang nyata di surga. Inilah esensi dari kaitan antara amal saleh yang berkualitas (Ihsan) dengan balasan tertinggi (Al-Husna wa Ziyadah).

