Ilmu akidah merupakan mercusuar utama dalam mengarungi samudra keimanan. Dalam tradisi pemikiran Islam, khususnya yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual yang didasarkan pada argumentasi yang kokoh. Para ulama merumuskan dua puluh sifat wajib bagi Allah sebagai representasi dari kesempurnaan mutlak yang harus diyakini oleh setiap muslim. Pembagian sifat-sifat ini ke dalam kategori Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah bertujuan untuk mempermudah akal manusia dalam memahami keagungan Sang Khaliq tanpa terjebak dalam penyerupaan (tasybih) maupun peniadaan sifat (ta’thil). Memahami sifat-sifat ini adalah kewajiban pertama (awwalu wajibin) bagi seorang mukallaf agar tauhidnya berdiri di atas landasan bashirah atau ilmu yang nyata.
إِنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ شَرْعًا هُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى بِصِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ وَالْمُسْتَحِيْلَةِ وَالْجَائِزَةِ. وَأَوَّلُ هَذِهِ الصِّفَاتِ هِيَ الْوُجُودُ، وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ، بِمَعْنَى أَنَّ الْعَقْلَ لَا يَتَصَوَّرُ الذَّاتَ الْعَلِيَّةَ إِلَّا وَهِيَ مَوْصُوفَةٌ بِالْوُجُودِ. وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Sesungguhnya kewajiban pertama bagi seorang mukallaf secara syariat adalah mengenal Allah Swt melalui sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya. Sifat pertama yang harus dipahami adalah Al-Wujud (Ada). Dalam tinjauan teologis, Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna pada zat tersebut. Secara aqli (logika), keberadaan alam semesta yang sangat teratur ini (huduts al-alam) mustahil terjadi tanpa adanya Sang Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud (keberadaan-Nya bersifat pasti). Ayat di atas (QS. Al-A'raf: 54) menegaskan bahwa Allah adalah Rabb yang menciptakan langit dan bumi, yang secara implisit menunjukkan bahwa Pencipta haruslah ada sebelum ciptaan itu ada. Tanpa sifat Wujud, seluruh bangunan akidah akan runtuh, karena ketiadaan (adam) tidak mungkin membuahkan penciptaan.
بَعْدَ ثُبُوتِ الْوُجُودِ، يَجِبُ تَنْزِيهُ اللهِ تَعَالَى عَنْ صِفَاتِ النَّقْصِ بِمَا يُسَمَّى بِالصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ، وَهِيَ: الْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَقَالَ أَيْضًا: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Setelah menetapkan sifat Wujud, maka wajib bagi kita untuk menyucikan Allah Swt dari segala sifat kekurangan melalui apa yang disebut dengan Sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah adalah sifat yang berfungsi untuk meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Kelima sifat tersebut adalah Qidam (Terdahulu tanpa permulaan), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Penegasan dalam QS. Asy-Syura: 11 bahwa "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya" merupakan kaidah fundamental dalam akidah Tanzih. Allah tidak terikat oleh ruang, waktu, materi, maupun dimensi yang mengikat makhluk. Sifat Qidam dan Baqa yang termaktub dalam QS. Al-Hadid: 3 menjelaskan bahwa Allah adalah Al-Awwal (Yang Pertama) tanpa ada yang mendahului, dan Al-Akhir (Yang Terakhir) tanpa ada yang mengakhiri. Ini membantah teori tasalsul (mata rantai tanpa ujung) dan dawr (lingkaran sebab-akibat) dalam filsafat ketuhanan.
ثُمَّ نَنْتَقِلُ إِلَى صِفَاتِ الْمَعَانِي، وَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللهِ تَعَالَى، وَهِيَ: الْقُدْرَةُ، وَالْإِرَادَةُ، وَالْعِلْمُ، وَالْحَيَاةُ، وَالسَّمْعُ، وَالْبَصَرُ، وَالْكَلَامُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَقَالَ سُبْحَانَهُ: وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا. وَهَذِهِ الصِّفَاتُ تَتَعَلَّقُ بِالْمُمْكِنَاتِ إِيجَادًا وَإِعْدَامًا وَتَخْصِيصًا وَإِحَاطَةً.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:

