Dalam diskursus epistemologi Islam, terdapat satu teks yang dianggap sebagai fondasi utama atau yang sering disebut oleh para ulama sebagai Ummus Sunnah. Hadits ini adalah Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Hadits ini tidak sekadar menceritakan sebuah dialog, melainkan sebuah struktur kurikulum pendidikan agama yang sangat sistematis, mencakup dimensi eksoterik (lahiriah), esoterik (batiniah), dan puncaknya adalah kesadaran transendental. Kedatangan Malaikat Jibril dalam wujud manusia yang sangat rapi memberikan pelajaran pertama tentang adab dalam menuntut ilmu, di mana kebersihan fisik mencerminkan kesiapan jiwa dalam menerima pancaran wahyu.
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Diriwayatkan dari Umar radhiyallahu anhu, ia berkata: Suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Tidak terlihat padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia kemudian duduk di hadapan Nabi, menempelkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Nabi. Secara analitis, para mufassir hadits menekankan bahwa posisi duduk Jibril yang sedemikian dekat menunjukkan metode talqin atau transfer ilmu yang sangat intensif. Pakaian putih dan rambut hitam yang rapi melambangkan bahwa ilmu agama harus didekati dengan kesucian hati dan penampilan yang terhormat. Ini adalah pondasi awal dalam kajian fiqih adab sebelum memasuki substansi aqidah.
قَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلامِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الإِسْلامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Laki-laki itu bertanya: Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam. Rasulullah menjawab: Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika engkau mampu. Laki-laki itu berkata: Engkau benar. Dalam perspektif fiqih, jawaban ini mendefinisikan Islam sebagai rukun-rukun lahiriah yang menjadi identitas hukum (legal identity) seorang mukalaf. Syahadat adalah gerbang masuk, sementara shalat, zakat, puasa, dan haji adalah pilar-pilar operasional yang menjaga tegaknya struktur agama dalam kehidupan sosial dan pribadi. Pembenaran Jibril (صدقت) setelah bertanya adalah hal yang unik, yang kemudian dijelaskan oleh para sahabat sebagai bentuk pengajaran melalui tanya jawab.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ: صَدَقْتَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

