Dalam diskursus keilmuan Islam, pencapaian spiritual tertinggi seorang hamba tidak hanya berhenti pada tataran formalitas syariat (Islam) atau keyakinan dogmatis (Iman), melainkan memuncak pada maqam Ihsan. Ihsan merupakan sebuah kondisi ontologis di mana kesadaran hamba melebur dalam pengawasan mutlak Sang Khaliq. Para ulama mufassir dan muhaddits memandang bahwa buah dari Ihsan di dunia adalah anugerah terbesar di akhirat, yaitu kemampuan melihat Wajah Allah. Kajian ini akan membedah secara mendalam korelasi antara praktik Ihsan dengan janji eskatologis berupa Ruyatullah, dengan merujuk pada teks-teks otoritatif dalam kitab-kitab hadits dan tafsir klasik yang menjadi pilar akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Pilar pertama dalam memahami kedalaman makna Ihsan dapat kita temukan dalam dialog monumental antara Malaikat Jibril dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Teks ini merupakan fundamen bagi seluruh bangunan tasawuf dan akhlak dalam Islam.

Dalam Artikel

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ صَدَقْتَ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Jibril bertanya kepada Nabi: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Nabi menjawab: Ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Jibril berkata: Engkau benar. Dalam syarah hadits ini, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa maqam Ihsan terbagi menjadi dua tingkatan. Tingkat pertama adalah Maqam Musyahadah, yaitu ketika seorang hamba beribadah dengan hati yang dipenuhi cahaya makrifat sehingga seakan-akan ia menyaksikan Tuhannya secara langsung. Tingkat kedua adalah Maqam Muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba. Jika seorang hamba mampu mengistiqamahkan Ihsan di dunia, maka Allah menjanjikan sebuah balasan yang melampaui segala kenikmatan surga, yakni penglihatan yang nyata tanpa perantara di hari kiamat kelak.

Korelasi antara perbuatan baik (Ihsan) dan balasan berupa melihat Allah ditegaskan dalam Al-Quran melalui diksi Al-Husna dan Al-Ziyadah. Para mufassir merujuk pada ayat-ayat yang menjelaskan keadaan wajah orang-orang beriman saat bertemu dengan Tuhannya di hari pembalasan.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ تَظُنُّ أَنْ يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah orang kafir pada hari itu muram, mereka yakin akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. Dalam tafsir Ibnu Katsir, penggunaan kata nadhirah (berseri-seri) disandingkan dengan nadhirah (melihat) dengan huruf jar ila menunjukkan sebuah penglihatan mata kepala yang nyata (ruyatul bashar). Penggunaan kata ila di sini mematahkan argumentasi kelompok yang mencoba mentakwil melihat Allah sebagai sekadar menunggu pahala. Secara linguistik, jika kata nadhara disandingkan dengan objek wajah dan menggunakan preposisi ila, maka maknanya secara definitif adalah melihat dengan indra penglihatan. Inilah kenikmatan puncak bagi para muhsinin yang selama di dunia telah menghamba seolah-olah melihat-Nya, maka di akhirat Allah mewujudkan penglihatan itu secara hakiki.

Kepastian mengenai ruyatullah ini juga diperkuat dengan hadits-hadits mutawatir yang memberikan analogi visual untuk memudahkan pemahaman manusia tanpa bermaksud menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (tasybih). Rasulullah memberikan kepastian ini kepada para sahabat untuk menguatkan azam mereka dalam beribadah.

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا