Ilmu akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan Islam yang menentukan keabsahan iman seseorang. Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansyur al-Maturidi, mengenal sifat-sifat wajib bagi Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual. Sifat-sifat ini dibagi menjadi empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Pemahaman yang mendalam mengenai sifat-sifat ini memungkinkan seorang mukmin untuk membersihkan konsepsinya tentang Tuhan dari segala bentuk penyerupaan (tasybih) dan peniadaan (ta’thil). Artikel ini akan membedah secara mendalam bagaimana para ulama merumuskan sifat-sifat tersebut berdasarkan integrasi antara wahyu yang suci dan akal yang sehat.
Sifat pertama yang menjadi asas dari segala sifat adalah Wujud. Secara ontologis, keberadaan Allah adalah keharusan mutlak (Wajib al-Wujud), yang berarti akal tidak dapat menerima ketiadaan-Nya. Berbeda dengan makhluk yang keberadaannya bersifat mungkin (Mumkin al-Wujud), Allah ada tanpa penyebab dan tanpa permulaan.
فَأَمَّا الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ فَهِيَ الْوُجُودُ. وَمَعْنَى الْوُجُودِ ثُبُوتُ الذَّاتِ وَحَقِيقَتِهَا، وَهُوَ صِفَةٌ لَا تَقْبَلُ الْعَدَمَ لَا أَزَلًا وَلَا أَبَدًا. وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّ هَذَا الْعَالَمَ حَادِثٌ، وَكُلُّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ، وَهُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَفِي اللهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Maka adapun Sifat Nafsiyah adalah Al-Wujud (Ada). Makna dari Wujud adalah ketetapan Dzat dan hakikat-Nya, dan ia merupakan sifat yang tidak menerima ketiadaan, baik dalam keazalan (masa lampau yang tak berawal) maupun dalam keabadian (masa depan yang tak berakhir). Dalil atas hal tersebut adalah bahwa alam semesta ini bersifat baru (hadits), dan setiap yang baru niscaya membutuhkan Pencipta yang Wajib Keberadaannya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10). Dalam syarah akidah, Sifat Nafsiyah didefinisikan sebagai sifat yang menunjukkan pada Dzat itu sendiri tanpa ada tambahan makna lain. Keberadaan Allah adalah hakikat yang mendahului segala sesuatu, di mana akal manusia dipaksa untuk mengakui bahwa keteraturan kosmos ini mustahil terjadi tanpa adanya Pengatur yang Wujud-Nya bersifat esensial.
Setelah menetapkan keberadaan-Nya, kita beralih pada Sifat Salbiyah. Sifat ini berfungsi untuk meniadakan segala sifat yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Sifat Salbiyah yang utama meliputi Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa).
وَأَمَّا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ فَهِيَ الَّتِي تَنْفِي عَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ. مِنْهَا الْقِدَمُ، وَمَعْنَاهُ عَدَمُ الِافْتِتَاحِ لِوُجُودِهِ. وَالْبَقَاءُ، وَمَعْنَاهُ عَدَمُ الِاخْتِتَامِ لِوُجُودِهِ. وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ، وَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَيْسَ جِسْمًا وَلَا عَرَضًا وَلَا فِي جِهَةٍ وَلَا مَكَانٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Adapun Sifat-sifat Salbiyah adalah sifat-sifat yang meniadakan dari Allah Ta’ala apa yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Di antaranya adalah Al-Qidam, yang maknanya adalah ketiadaan permulaan bagi keberadaan-Nya. Kemudian Al-Baqa, yang maknanya adalah ketiadaan akhir bagi keberadaan-Nya. Dan Mukhalafatu lil Hawaditsi, yang maknanya adalah bahwa Dia bukanlah materi (jisim), bukan pula sifat materi (aradh), tidak berada pada arah tertentu, dan tidak menempati ruang atau tempat. Allah Ta’ala berfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Penjelasan ini sangat krusial dalam memurnikan tauhid. Dengan sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi, seorang Muslim meyakini bahwa Allah tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu karena ruang dan waktu adalah makhluk (ciptaan), sedangkan Sang Pencipta tidak mungkin serupa dengan ciptaan-Nya. Ini adalah benteng utama melawan paham antropomorfisme (tajsim).

