Ibadah dalam Islam bukan sekadar rangkaian gerak fisik atau pengucapan lisan yang bersifat mekanis, melainkan sebuah entitas yang memiliki ruh dan substansi. Ruh dari setiap amal perbuatan adalah niat yang murni, yang dalam terminologi syariat disebut sebagai ikhlas. Tanpa ikhlas, sebuah amal akan kehilangan nilai teologisnya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebaliknya, ketika sebuah amal tercampur dengan residu kepentingan duniawi atau keinginan untuk dipuji oleh makhluk, maka ia terjatuh ke dalam jurang riya yang merupakan syirik kecil. Ulama mufassir dan muhaddits telah memberikan perhatian besar pada fenomena hati ini, mengingat urgensinya dalam menentukan diterima atau ditolaknya sebuah penghambaan.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ . وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan. Dalam tinjauan Tafsir Al-Jalalain dan Ibnu Katsir, kata Wail di sini merupakan ancaman lembah di neraka atau kehancuran bagi mereka yang melakukan formalitas ibadah namun hatinya kosong dari kehadiran Allah. Penggunaan diksi Al-Musallin menunjukkan bahwa subjeknya adalah orang yang secara lahiriah mendirikan shalat, namun ayat selanjutnya memberikan kriteria pembatal pahala mereka, yakni Yura'un. Riya di sini bermakna melakukan ketaatan agar dilihat oleh manusia guna mendapatkan kedudukan atau pujian. Ini adalah bentuk nifaq amali yang sangat berbahaya karena merusak esensi vertikal antara hamba dan Pencipta.
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Terjemahan dan Syarah Hadits: Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan, maka ia mengenalinya. Allah bertanya: Apa yang kamu lakukan dengan nikmat itu? Ia menjawab: Aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid. Allah berfirman: Kamu dusta! Akan tetapi kamu berperang supaya dikatakan sebagai pemberani, dan itu telah dikatakan (di dunia). Kemudian diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Hadits riwayat Imam Muslim ini merupakan tamparan keras bagi setiap ahli ibadah. Bedah hadits ini menunjukkan bahwa niat (qashd) adalah pembeda utama. Meskipun secara fisik ia melakukan pengorbanan nyawa (jihad), namun karena motivasi batinnya adalah Liyuqala (supaya dikatakan/dipuji), maka amal tersebut menjadi debu yang beterbangan. Ini membuktikan bahwa Allah tidak menerima amal kecuali yang murni hanya untuk-Nya.
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Terjemahan dan Analisis Akidah: Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman dalam Hadits Qudsi: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang di dalamnya dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya. Secara semantik, kalimat Ana Aghna asy-Syuraka mengukuhkan sifat Al-Ghani (Maha Kaya) milik Allah. Allah adalah Dzat yang Maha Esa dan tidak menerima dualisme dalam niat. Jika seorang hamba membagi niatnya antara mencari ridha Allah dan mencari apresiasi makhluk, maka Allah berlepas diri dari amal tersebut secara totalitas. Dalam kaidah fiqih niat, riya yang muncul di awal ibadah dan terus dipertahankan dapat membatalkan seluruh rangkaian ibadah tersebut, menjadikannya sia-sia di timbangan mizan kelak.
تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللَّهُ مِنْهُمَا
Terjemahan dan Syarah Hikmah: Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya. Atsar yang sangat masyhur dari Fudhayl bin Iyadh ini merupakan definisi psikologis yang sangat mendalam mengenai ikhlas. Beliau menjelaskan bahwa syaitan memiliki dua pintu masuk untuk merusak hamba. Pintu pertama adalah mendorong manusia untuk beramal demi pujian (syirik ashghar). Pintu kedua, ketika manusia takut dianggap riya, syaitan membisikinya untuk meninggalkan amal saleh tersebut, yang pada hakikatnya juga merupakan bentuk riya karena standarnya masih manusia. Ikhlas yang sejati adalah kemerdekaan hati dari belenggu pandangan makhluk, di mana ada dan tidaknya manusia tidak mengubah kualitas serta kuantitas penghambaan kepada Allah.

