Dalam diskursus teologi Islam (akidah) dan spiritualitas (suluk), konsep kedekatan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan makhluk-Nya merupakan salah satu tema paling fundamental sekaligus halus. Para ulama tafsir, ahli hadis, dan pakar fikih telah mencurahkan perhatian yang luar biasa untuk merumuskan pemahaman yang selamat (manhaj salim) mengenai bagaimana Allah yang Maha Tinggi di atas Arsy-Nya juga senantiasa bersama hamba-hamba-Nya. Kajian ini bertujuan untuk membedah secara komprehensif teks-teks otoritatif, baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah, guna menyingkap hakikat kebersamaan (ma'iyyah) dan kedekatan (qurb) tersebut, serta bagaimana implikasinya terhadap kualitas ibadah seorang mukmin dalam ranah praktis (fiqih).

Untuk memahami bagaimana Al-Quran meletakkan dasar teologis tentang kebersamaan Allah yang mutlak, kita harus merujuk pada Surah Al-Hadid ayat 4. Ayat ini secara simultan menegaskan ketinggian Allah di atas Arsy (istiwa) sekaligus kebersamaan-Nya dengan makhluk di mana pun mereka berada. Hal ini menjadi fondasi utama dalam memahami bahwa kedekatan Allah tidaklah bersifat material atau spasial, melainkan bersifat ilmiah (meliputi ilmu-Nya) dan bashariyyah (meliputi pengawasan-Nya).

Dalam Artikel

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Terjemahan: Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Syarah dan Tafsir Mendalam:

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa frasa "Wa Huwa Ma'akum Aina Ma Kuntum" berarti Allah senantiasa mengawasi, menyaksikan, dan mengetahui segala gerak-gerik serta keadaan makhluk-Nya, di mana pun mereka berada. Kebersamaan dalam ayat ini dikategorikan oleh para ulama akidah sebagai Ma'iyyah 'Ammah (kebersamaan yang bersifat umum). Kebersamaan jenis ini mencakup seluruh makhluk, baik yang mukmin maupun yang kafir, yang saleh maupun yang durhaka. Bentuk kebersamaan ini diwujudkan dalam bentuk ilmu (pengetahuan), qudrah (kekuasaan), pengawasan, dan pemeliharaan kosmik.

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan bahwa penyebutan kebersamaan ini tidak boleh dipahami sebagai hulul (Tuhan menyatu atau bertempat di dalam makhluk) ataupun ittihad (penyatuan eksistensi). Allah tetap berada di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya (ba'inun min khalqihi), namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Pemahaman ini menjaga kesucian sifat-sifat Allah (tanzih) sekaligus menetapkan sifat-sifat keagungan-Nya tanpa melakukan penolakan (ta'til) maupun penyerupaan (tamsyil).

Selanjutnya, Al-Quran membawa kesadaran manusia pada tingkat kedekatan yang lebih intim dan personal. Dalam Surah Qaf ayat 16, Allah menggambarkan kedekatan-Nya dengan analogi yang sangat menyentuh kesadaran batin, yaitu lebih dekat daripada urat leher manusia itu sendiri. Ayat ini membedah bagaimana setiap bisikan hati manusia tidak luput dari pengetahuan Ilahi.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ