Dalam diskursus keislaman, tauhid bukan sekadar konsep teoretis mengenai keesaan Tuhan, melainkan sebuah fondasi eksistensial yang menentukan arah hidup seorang mukmin. Di tengah gempuran modernitas yang membawa arus materialisme, sekularisme, dan hedonisme, tantangan terhadap kemurnian aqidah menjadi kian kompleks. Jika pada masa jahiliyah syirik bermanifestasi dalam bentuk penyembahan berhala batu, maka di era disrupsi ini, syirik dapat muncul dalam bentuk pengkultusan terhadap teknologi, kekuasaan, hingga hawa nafsu yang terselubung. Menjaga tauhid berarti memastikan bahwa pusat gravitasi kehidupan tetap tertuju hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa ada sekutu dalam bentuk apa pun.

Pentingnya menjaga kemurnian tauhid ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya yang menjadi dasar utama bagi setiap Muslim untuk memahami hakikat ketuhanan secara absolut.

Dalam Artikel

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Syarah dan Tafsir Mendalam:

Ayat-ayat dalam Surah Al-Ikhlas ini merupakan deklarasi teologis paling fundamental dalam Islam. Kata Al-Ahad menunjukkan keesaan yang tidak terbagi dan tidak berbilang, menafikan segala bentuk pluralitas dalam zat-Nya. Sementara itu, as-Samad memberikan pengertian bahwa Allah adalah satu-satunya tumpuan segala hajat makhluk. Dalam konteks modern, as-Samad mengajarkan kita bahwa di tengah ketergantungan manusia pada sistem ekonomi atau teknologi, seorang mukmin harus tetap meyakini bahwa segala sebab-akibat berada di bawah kendali Allah. Menafikan kufuwan (kesetaraan) berarti menolak segala bentuk ideologi yang mencoba memosisikan makhluk atau hukum buatan manusia di atas hukum Allah.

Tantangan tauhid di zaman sekarang juga berkaitan erat dengan kecenderungan manusia yang terlalu mencintai dunia sehingga terjebak dalam penghambaan terhadap materi. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini dalam sebuah hadits yang sangat relevan dengan kondisi sosiologis masyarakat modern.

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

Terjemahan: Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian (perhiasan). Jika dia diberi, dia merasa senang, namun jika tidak diberi, dia marah. Celakalah dia dan tersungkurlah dia, dan jika dia tertusuk duri, semoga tidak dapat mencabutnya.