Di era digital saat ini, ruang publik kita sering kali berubah menjadi medan laga kata-kata yang tajam. Perbedaan pendapat, yang seharusnya menjadi rahmat dan sarana memperkaya perspektif, justru kerap menjadi pemicu perpecahan yang mendalam. Kita menyaksikan bagaimana diskusi intelektual bergeser menjadi caci maki, dan perbedaan pilihan politik atau mazhab berubah menjadi permusuhan personal. Fenomena ini menunjukkan adanya kekosongan adab dalam berinteraksi, sebuah alarm bagi kita semua untuk meninjau kembali sejauh mana nilai-nilai Islam telah mendarah daging dalam lisan dan tulisan kita.

Islam sejatinya tidak pernah mengharamkan perbedaan. Sejarah mencatat betapa para sahabat Nabi dan para imam mazhab memiliki pandangan yang beragam dalam berbagai persoalan, namun mereka tetap saling menghormati. Perbedaan adalah sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Namun, yang menjadi persoalan besar hari ini bukanlah perbedaannya, melainkan cara kita menyikapinya. Tanpa Akhlakul Karimah, kebenaran yang kita sampaikan justru bisa menjadi racun yang menyakiti hati sesama dan menjauhkan kita dari esensi ajaran agama yang penuh kasih.

Dalam Artikel

Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya menjaga lisan dan sikapnya di tengah interaksi sosial. Beliau bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang Muslim yang sejati adalah dia yang orang-orang Muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Hadis ini menegaskan bahwa kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ritual ibadah mahdhah, tetapi juga dari sejauh mana dia mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi orang lain melalui kata-katanya. Jika lisan kita masih sering menyakiti, maka ada yang perlu diperbaiki dalam pondasi keimanan kita.

Kritik yang beradab adalah kritik yang fokus pada substansi pemikiran, bukan pada pembunuhan karakter. Saat ini, banyak orang merasa memiliki otoritas tunggal atas kebenaran sehingga dengan mudah merendahkan pihak lain yang berbeda pandangan. Sikap merasa paling benar ini adalah benih dari kesombongan yang sangat dilarang dalam agama. Padahal, bisa jadi pendapat yang kita anggap salah memiliki sisi kebenaran yang belum kita pahami, atau orang yang kita kritik memiliki kedudukan yang lebih mulia di sisi Allah karena ketulusan hatinya.

Al-Quran mengingatkan kita dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 untuk tidak saling merendahkan karena standar kemuliaan di mata manusia sering kali menipu. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Ayat ini adalah tamparan keras bagi kita yang sering kali merasa lebih pintar atau lebih beriman sehingga merasa berhak menghina orang lain di kolom komentar atau panggung diskusi publik.