Peradaban modern yang ditandai dengan lompatan eksponensial di bidang sains, teknologi informasi, dan globalisasi ekonomi, di satu sisi telah memberikan kemudahan luar biasa bagi kehidupan material manusia. Namun, di sisi lain, modernitas membawa implikasi sosiologis dan psikologis yang destruktif berupa pengikisan nilai-nilai transendental. Sekularisme yang memisahkan agama dari ruang publik, berpadu dengan materialisme yang menjadikan materi sebagai tolok ukur tunggal kebahagiaan, telah mendegradasi posisi manusia dari makhluk spiritual menjadi sekadar mesin produksi dan konsumsi. Dalam lanskap sosio-kultural yang demikian, tauhid bukan lagi sekadar pembahasan teologis yang teoritis-skolastik di ruang kelas, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial yang mendesak. Tauhid adalah jangkar spiritual yang menjaga kesadaran manusia agar tetap terhubung dengan Sang Pencipta, membebaskan jiwa dari berbagai bentuk perbudakan modern, dan memberikan arah di tengah badai disorientasi moral global.

Mengawali diskursus ini, kita musti meletakkan fondasi eksistensial manusia di alam semesta. Tauhid bukan sekadar dogma teologis normatif, melainkan poros penciptaan yang mengorientasikan seluruh gerak kehidupan. Di tengah disorientasi modernitas yang mendewakan materi, Al-Quran menegaskan kembali cetak biru penciptaan manusia agar tidak terjebak dalam kehampaan eksistensial.

Dalam Artikel

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Terjemahan: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Syarah dan Tafsir: Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna "liya'buduni" adalah agar mereka tunduk, ta