Kajian mengenai ketuhanan merupakan puncak dari segala disiplin ilmu dalam Islam. Ma’rifatullah atau mengenal Allah Swt bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah pencapaian intelektual dan spiritual yang dibangun di atas fondasi dalil naqli (teks wahyu) dan dalil aqli (rasionalitas). Dalam tradisi keilmuan Asy’ariyah dan Maturidiyah, para ulama telah merumuskan sistematisasi sifat-sifat Allah ke dalam dua puluh sifat wajib yang secara kategoris terbagi menjadi Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Pemahaman ini sangat krusial untuk menjaga kemurnian tauhid dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan sifat). Berikut adalah bedah mendalam mengenai sifat-sifat tersebut dengan merujuk pada teks-teks otoritatif.
الْأَوَّلُ الْوُجُودُ وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا وَدَلِيلُهُ قَوْلُهُ تَعَالَى اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ فَإِنَّ وُجُودَ الْعَالَمِ بَعْدَ عَدَمِهِ دَلِيلٌ قَاطِعٌ عَلَى وُجُودِ صَانِعٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ لَا يَفْتَقِرُ إِلَى غَيْرِهِ بَلْ يَفْتَقِرُ إِلَيْهِ كُلُّ مَا سِوَاهُ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ وَآنٍ
Sifat yang pertama adalah Wujud (Ada). Wujud merupakan Sifat Nafsiyah, yakni sifat yang berhubungan dengan dzat itu sendiri di mana akal tidak dapat membayangkan adanya dzat tanpa adanya sifat ini. Secara ontologis, Allah adalah Wajibul Wujud (Wajib Adanya). Keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan mengalami perubahan merupakan bukti rasional yang tak terbantahkan akan adanya Sang Pencipta. Dalil naqli dalam Al-Quran Surah Az-Zumar ayat 62 menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dalam diskursus teologi, wujud Allah bersifat mutlak dan qadim (dahulu), berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mungkin (jaiz) dan didahului oleh ketiadaan.
ثُمَّ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسَةٌ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلُبُ عَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ فَهُوَ الْقَدِيمُ الَّذِي لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُودِهِ وَالْبَاقِي الَّذِي لَا انْتِهَاءَ لَهُ وَهُوَ الْمُخَالِفُ لِلْخَلْقِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Selanjutnya adalah Sifat Salbiyah yang berjumlah lima: Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Makna Salbiyah adalah sifat-sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Qidam meniadakan permulaan bagi wujud-Nya, sedangkan Baqa meniadakan akhir bagi eksistensi-Nya. Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan transendensi mutlak Allah bahwa Dia tidak menyerupai makhluk-Nya dalam hal apapun, baik dzat, sifat, maupun perbuatan. Hal ini didasarkan pada Surah Asy-Syura ayat 11 yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Sifat Wahdaniyah meniadakan adanya sekutu atau pembagian pada dzat-Nya, menegaskan keesaan yang absolut.
وَمِنْهَا صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ الْمُمْكِنِ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ كَمَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ
Kategori berikutnya adalah Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat eksistensial yang berdiri pada dzat Allah yang memberikan pengaruh pada konsekuensi logis kekuasaan-Nya. Sifat-sifat ini meliputi Qudrat (Kuasa), Iradat (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Qudrat adalah sifat azali yang dengannya Allah menciptakan atau meniadakan segala sesuatu yang mungkin (al-mumkinat). Iradat berfungsi menentukan (takhshish) segala kemungkinan tersebut sesuai dengan kehendak-Nya yang mutlak. Sementara Ilmu adalah sifat yang menyingkap segala sesuatu secara detail tanpa ada keraguan sedikitpun. Ketiga sifat ini bekerja secara harmonis dalam penciptaan alam semesta; Allah mengetahui apa yang akan diciptakan, menghendaki keberadaannya, dan mewujudkannya dengan kekuasaan-Nya.
وَأَمَّا الْكَلَامُ فَهُوَ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ مُنَزَّهٌ عَنِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ وَالسُّكُوتِ وَالْآفَاتِ وَدَلِيلُهُ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا فَالْقُرْآنُ الْكَرِيمُ بِاعْتِبَارِ أَنَّهُ كَلَامُ اللهِ الْقَدِيمِ لَا بَدَايَةَ لَهُ وَبِاعْتِبَارِ نُطْقِنَا وَكِتَابَتِنَا فَهُوَ مَخْلُوقٌ دَالٌّ عَلَى ذَلِكَ الْكَلَامِ الْأَزَلِيِّ الْمُقَدَّسِ
Sifat Kalam (Berfirman) merupakan sifat azali yang berdiri pada dzat Allah yang tidak terdiri dari huruf maupun suara. Sifat ini suci dari sifat-sifat baru seperti terdahulu, terkemudian, diam, atau cacat lisan. Dalilnya terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 164 yang menyatakan bahwa Allah telah berfirman kepada Nabi Musa secara langsung. Dalam pemahaman teologi yang mendalam, harus dibedakan antara Kalam Nafsi (firman Allah yang azali pada dzat-Nya) dengan Kalam Lafdzi (teks Al-Quran yang kita baca dan tulis). Al-Quran yang ada di tangan kita adalah representasi dari Kalamullah yang qadim tersebut. Memahami sifat Kalam ini sangat penting untuk menghindari pemahaman anthropomorfisme yang membayangkan Allah berbicara seperti manusia menggunakan alat ucap.

