Peradaban modern dengan segala pencapaian teknologi, penetrasi digital, dan globalisasi budaya telah membawa perubahan radikal dalam cara manusia memandang dunia dan dirinya sendiri. Di satu sisi, modernitas menawarkan kemudahan material yang luar biasa; namun di sisi lain, ia membawa tantangan teologis yang sangat kompleks bagi umat Islam. Tantangan terbesar hari ini tidak lagi berupa penyembahan berhala fisik tradisional di tempat-tempat pemujaan, melainkan pergeseran epistemologis dan spiritual yang mengikis fondasi keimanan secara perlahan. Sekularisme, materialisme, eksistensialisme ateistik, dan pemujaan terhadap ego (self-worship) menjadi berhala-berhala modern yang samar namun sangat destruktif. Oleh karena itu, merekonstruksi pemahaman tauhid yang murni dan aplikatif di era kontemporer bukan lagi sekadar kajian teologis teoretis di ruang kelas, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial untuk menyelamatkan integritas spiritual manusia modern dari kehampaan makna hidup.
Pembahasan tauhid harus bermula dari penyerahan totalitas eksistensi manusia kepada Allah. Di era modern, fragmentasi kehidupan sering kali memisahkan antara ibadah ritual dan aktivitas sosial-ekonomi. Padahal, tauhid menuntut unifikasi seluruh dimensi kehidupan hanya untuk Sang Pencipta, tanpa ada dikotomi antara yang profan dan yang sakral.

