Evolusi peradaban manusia menuju era modernitas yang ditandai oleh rasionalisme ekstrim, sekularisasi, dan disrupsi teknologi telah membawa implikasi signifikan terhadap dimensi spiritualitas manusia. Dalam diskursus akidah Islam, tauhid bukan sekadar pengakuan abstrak atas keberadaan Tuhan, melainkan sebuah pandangan dunia (worldview) yang mengatur seluruh poros kehidupan eksistensial, epistemologis, dan aksiolakologis seorang Muslim. Ketika materialisme dan hedonisme menjadi ideologi dominan secara terselubung, ancaman terhadap ketauhidan tidak lagi selalu berwujud penyembahan fisik kepada idola atau patung, melainkan bergeser pada deifikasi terhadap materi, status sosial, ilmu pengetahuan, serta hawa nafsu sendiri. Oleh karena itu, merekonstruksi pemahaman tauhid murni berlandaskan al-Qur'an dan al-Hadits menjadi sebuah keniscayaan akademis dan spiritual guna menyelamatkan jiwa manusia modern dari krisis eksistensial.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَل

