Kajian mengenai ketuhanan dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya yang dirumuskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, menempatkan ma'rifatullah (mengenal Allah) sebagai kewajiban syar'i paling fundamental bagi setiap mukallaf. Pengenalan ini tidak didasarkan pada imajinasi atau andaian spekulatif, melainkan melalui kerangka epistemologi yang kokoh, memadukan penalaran akal yang lurus ('aql) dan konfirmasi wahyu yang otentik (naql). Para ulama mutakallimin membagi sifat-sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah menjadi sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz. Sifat wajib dalam konteks metafisika Islam diartikan sebagai sifat-sifat yang secara rasional tidak dapat diterima ketiadaannya bagi Dzat Allah Yang Maha Agung.
Dalam sistematika ilmu kalam, sifat-sifat wajib ini dikelompokkan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pemahaman mendalam mengenai kualifikasi sifat-sifat ini merupakan benteng utama umat Islam dari bahaya tasybih (penyamaan Allah dengan makhluk) dan ta'til (pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah). Berikut adalah analisis rasional dan tekstual berbasis kitab-kitab turats serta ayat-ayat Al-Quran yang menjadi fondasi penetapan sifat-sifat wajib tersebut.
Memahami ketunggalan dan ketidakmiripan Allah dengan makhluk merupakan fondasi dari sifat Salbiyah. Sifat Salbiyah adalah sifat yang menafikan segala penyifatan yang tidak layak bagi keagungan Allah SWT, seperti sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi (berbeda dengan perkara baru atau makhluk).
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . وَاعْلَمْ أَنَّ الصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةَ هِيَ كُلُّ صِفَةٍ تَدُلُّ عَلَى نَفْيِ مَا لَا يَلِيقُ بِاللَّهِ تَعَالَى ، وَأَعْظَمُهَا النَّفْيُ الْمُطْلَقُ لِلْمُشَابَهَةِ بَيْنَ الْخَالِقِ وَالْمَخْلُوقِ ذَاتًا وَصِفَاتٍ وَأَفْعَالًا.
Terjemahan dan Syarah:
Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Dan ketahuilah bahwa sifat-sifat Salbiyah adalah setiap sifat yang menunjukkan penafian atas apa yang tidak layak bagi Allah Ta'ala, dan yang terbesar adalah penafian mutlak terhadap keserupaan antara Pencipta dan makhluk, baik dalam Dzat, sifat, maupun perbuatan.
Analisis teologis terhadap teks di atas menegaskan klausa Laysa Kamitslihi Syai'un sebagai Kaidah Kulli (prinsip universal) dalam akidah Islam. Ulama tafsir dan mutakallimin menjelaskan bahwa penafian keserupaan ini mencakup penafian jism (substansi bermassa), 'aradh (sifat aksidental pada materi), arah, maupun ruang dan waktu. Allah ada tanpa terikat oleh dimensi ruang dan masa, karena ruang dan masa adalah ciptaan-Nya yang bersifat baru (hadits).
Selanjutnya, keberadaan Dzat Allah bersifat mutlak dan tidak didahului oleh ketiadaan. Sifat Qidam (Maha Terdahulu) dan Baqa (Maha Kekal) adalah bagian dari sifat Salbiyah yang menegaskan keberadaan Allah tanpa awal dan tanpa akhir, berbeda secara inheren dengan alam semesta yang memiliki titik awal dan akhir.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . فَالْأَوَّلُ بِلَا ابْتِدَاءٍ ، وَالْآخِرُ بِلَا انْتِهَاءٍ ، لَا يَلْحَقُهُ الْفَنَاءُ وَلَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ الْعَدَمُ ، إذْ لَوْ أَمْكَنَ عَلَيْهِ الْعَدَمُ لَسَلَبَ عَنْهُ وُجُوبُ الْوُجُودِ وَلَكَانَ حَادِثًا مُحْتَاجًا إِلَى مُحْدِثٍ.

