Pondasi paling mendasar dalam epistemologi keislaman adalah ma'rifatullah, yaitu mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui argumentasi rasional yang berakar kuat pada wahyu. Dalam tradisi keilmuan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya yang dirumuskan oleh Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Al-Imam Abu Mansur al-Maturidi, pemahaman mengenai ketuhanan dikodifikasikan secara sistematis melalui pemetaan sifat-sifat wajib, mustahil, dan ja'iz. Pemikiran ini kemudian disempurnakan oleh Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi dalam karya-karya fenomenalnya seperti Umm al-Barahin. Menurut para ulama mutakallimin, setiap mukallaf berkewajiban secara syar'i untuk mengetahui dua puluh sifat wajib bagi Allah secara terperinci beserta dalil-dalilnya, guna membebaskan diri dari bahaya taqlid yang rawan goyah oleh syubhat pemikiran. Penataan ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tak terbatas, melainkan suatu kerangka pedagogis rasional agar akal manusia dapat menggapai simpul-simpul keimanan secara kokoh dan terstruktur.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ. وَاعْلَمْ أَنَّ الْوُجُودَ هُوَ الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ الَّتِي لَا تَتَحَقَّقُ الذَّاتُ بِدُونِهَا، وَهُوَ مَبْدَأُ كُلِّ صِفَةٍ كَمَالِيَّةٍ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ، مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ، أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ. وَالدَّلِيلُ الْعَقْلِيُّ عَلَى وُجُودِهِ تَعَالَى هُوَ حُدُوثُ الْعَالَمِ، فَإِنَّ كُلَّ مُتَغَيِّرٍ حَادِثٌ، وَكُلَّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ قَدِيمٍ يَجِبُ لَهُ الْوُجُودُ الذَّاتِيُّ.

Dalam Artikel

Syarah dan Terjemahan Blok Pertama:

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, serta shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, penutup para nabi. Ketahuilah bahwa Wujud (keberadaan) merupakan sifat nafsiyyah, yakni sifat eksistensial yang mana zat Allah tidak dapat dipahami tanpa adanya sifat ini. Wujud adalah fondasi utama dari seluruh sifat kesempurnaan. Allah Ta'ala berfirman dalam Surah As-Sajdah ayat 4: Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Analisis argumentasi rasional (dalil aqli) terhadap keberadaan Allah berakar pada fenomena kebaharuan alam (huduts al-'alam). Alam semesta secara empiris mengalami perubahan secara terus-menerus. Dalam logika kalam, setiap yang berubah adalah baharu (hadits), dan setiap yang baharu secara nisbi membutuhkan Sang Pencipta yang Maha Terdahulu (Muhdith Qadim) yang keberadaan-Nya bersifat wajibul wujud (wajib adanya secara zat). Keberadaan-Nya tidak diawali oleh ketiadaan, yang membawa kita pada sifat wajib berikutnya, yaitu Qidam (Maha Terdahulu) dan Baqa' (Maha Kekal).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَصِفَةُ الْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ تَقْتَضِي سَلْبَ الْجِرْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْكَمِّيَّةِ وَالْكَيْفِيَّةِ عَنْ ذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ، فَكُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللَّهُ بِخِلَافِ ذَٰلِكَ. وَيَلْزَمُ مِنْ هَٰذَا ثُبُوتُ صِفَةِ الْقِيَامِ بِالنَّفْسِ، وَهُوَ أَنَّهُ تَعَالَى غَنِيٌّ عَنِ الْمَحَلِّ وَالْمُخَصِّصِ، فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى ذَاتٍ يَحُل