Ibadah puasa (ash-shiyam) merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat agung dalam syariat. Dalam epistemologi fiqih Islam, keabsahan suatu ibadah ditentukan oleh pemenuhan elemen-elemen konstitutifnya, yaitu syarat (asy-syuruth) dan rukun (al-arkan). Para fuqaha dari empat madzhab utama—Hanafi, Maliki, Shafi'i, dan Hanbali—telah menguji secara mendalam dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah untuk merumuskan batasan hukum yang presisi terkait apa yang mendasari sah atau tidaknya puasa seseorang. Perbedaan metodologis dalam mentarjih dan memproses dalil menghasilkan beberapa variasi pemikiran fiqih yang sangat kaya dan bernilai ilmiah tinggi.

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . وَالصَّوْمُ فِي الشَّرِيعَةِ هُوَ الإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ الْمَخْصُوصَةِ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Terjemahan Teks: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Dan puasa secara syariat adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan mulai dari terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat yang khusus.

Syarah dan Analisis Fiqih:

Ayat dalam Surah Al-Baqarah [2]: 183 ini menjadi fondasi utama kewajiban puasa Ramadan. Secara etimologis, as-siyam bererti al-imsak (menahan diri secara mutlak). Namun secara terminologi syariat (isthilah syar'i), para ulama membatasi pengertian menahan diri tersebut pada objek-objek spesifik (al-muftirat/hal yang membatalkan) dalam rentang waktu yang terukur secara astronomis-syar'i (sejak fajar shadiq hingga terbenamnya piringan matahari). Keberadaan niat khusus menjadi pembeda utama antara tindakan menahan lapar secara medis atau adat dengan ibadah yang bernilai pahala di hadapan Allah SWT.

[TEKS ARAB BLOK 2]

اِخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي أَرْكَانِ الصَّوْمِ، فَقَالَ الْحَنَفِيَّةُ: إِنَّ لِلصَّوْمِ رُكْنًا وَاحِدًا وَهُوَ الإِمْسَاكُ عَنِ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ، وَأَمَّا النِّيَّةُ فَهِيَ شَرْطُ صِحَّةٍ عِنْدَهُمْ وَلَيْسَتْ رُكْنًا. وَقَالَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ: أَرْكَانُ الصَّوْمِ النِّيَّةُ وَالإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ، وَزَادَ بَعْضُهُمُ الصَّائِمَ.