Kajian mengenai fondasi akidah Islam merupakan fondasi paling fundamental dalam disiplin ilmu keislaman. Para ulama mutakallimin (ahli kalam) dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya mazhab Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, telah menyusun sebuah formulasi sistematis untuk memahami Dzat dan Sifat Allah SWT. Formulasi ini dirancang guna menjaga kesucian tauhid dari paham-paham yang menyimpang seperti tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk), tajsim (pembendaan Dzat Allah), maupun ta'thil (pengabaian sifat-sifat Allah). Dalam epistemologi akidah Islam, pemahaman terhadap sifat-sifat wajib bagi Allah SWT bukan sekadar dogma verbal, melainkan pembuktian rasional (burhan aqli) yang berpadu selaras dengan dalil wahyu (dalil naqli). Ulama membagi sifat-sifat wajib yang berjumlah 20 ini ke dalam empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah.
فَمِمَّا يَجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى عِشْرُونَ صِفَةً: فَالْأُولَى الْوُجُودُ، وَدَلِيلُهُ حُدُوثُ الْعَالَمِ؛ لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مُحْدِثٌ لَلَزِمَ أَنْ يَكُونَ حَادِثًا بِلَا مُحْدِثٍ، وَهُوَ مُحَالٌ عَقْلًا، وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ.
Terjemahan dan Syarah Akademik Blok 1:
Manifestasi Tauhid dalam Era Modern: Bedah Tekstual Akidah dan Solusi Atas Alienasi Spiritual
Di antara sifat yang wajib bagi Allah Ta'ala adalah dua puluh sifat. Sifat yang pertama adalah al-Wujud (Ada), dan dalil rasionalnya adalah terbarunya alam semesta ini (huduts al-'alam). Sebab, jika alam tidak memiliki Pencipta, niscaya akan timbul konsekuensi bahwa sesuatu yang baru ada tanpa ada yang mengadakan, dan hal tersebut adalah mustahil secara akal. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10).
Syarah: Sifat Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang membuktikan keberadaan Dzat tanpa menambahkan makna subsider pada Dzat tersebut. Keberadaan Allah bersifat Wajib al-Wujud (wajib adanya secara rasional), berbeda dengan keberadaan alam semesta yang bersifat Ja'iz al-Wujud (mungkin ada dan mungkin tidak ada). Argumentasi kosmologis ini dibangun di atas fakta bahwa alam mengalami perubahan (taghayyur). Setiap yang berubah adalah baru (hadits), dan setiap yang baru membutuhkan sebab primer yang tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang (al-Muhdith). Secara metodologis, Imam al-Sanusi menegaskan bahwa meragukan keberadaan Pencipta saat menyaksikan keteraturan alam adalah sebentuk kecacatan logika dasar.
وَخَمْسَةٌ سَلْبِيَّةٌ وَهِيَ: الْقِدَمُ، وَالْبَقَاءُ، وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَالْقِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَالْوَحْدَانِيَّةُ. فَمَعْنَى الْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ أَنَّهُ لَيْسَ بِجِرْمٍ وَلَا عَرَضٍ، وَلَا فِي جِهَةٍ وَلَا مَكَانٍ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
Terjemahan dan Syarah Akademik Blok 2:
Dan lima sifat berikutnya dinamakan

