Kajian mengenai ketauhidan merupakan fondasi paling fundamental dalam bangunan keislaman seorang hamba. Secara epistemologis, tauhid bukan sekadar pengakuan lisan atas keesaan Tuhan, melainkan sebuah transformasi kesadaran yang mengarahkan seluruh orientasi eksistensial manusia hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam diskursus ulama salaf, Tauhid Uluhiyah diletakkan sebagai muara dari seluruh aktivitas peribadahan, baik yang bersifat mahdhah maupun ghairu mahdhah. Artikel ini akan membedah secara mendalam bagaimana integrasi antara teks wahyu dalam Al-Quran dan penjelasan nabawi dalam Hadits membentuk kerangka berpikir seorang mukmin yang hanif.

Eksistensi Allah sebagai satu-satunya tumpuan harapan dan tujuan akhir dari segala bentuk pengabdian ditegaskan dalam surah yang menjadi jantung dari tauhid itu sendiri. Penegasan ini meruntuhkan segala bentuk dualisme spiritual dan ketergantungan kepada makhluk.

Dalam Artikel

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْۚ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. Dalam tinjauan tafsir, kata Al-Ahad menunjukkan keesaan yang mutlak pada dzat-Nya, yang tidak terbagi dan tidak tersusun. Sementara Al-Samad mengandung makna ontologis sebagai satu-satunya entitas yang kepadanya seluruh makhluk menggantungkan hajat, sementara Dia tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Pengulangan kata Ahad di awal dan akhir surah berfungsi sebagai qashr (pembatasan) yang menutup segala celah bagi kemusyrikan, baik dalam bentuk penyembahan berhala fisik maupun berhala maknawi seperti hawa nafsu.

Setelah memahami esensi keesaan Allah, seorang mukmin dituntut untuk merealisasikan kesadaran tersebut dalam bentuk pengawasan diri yang ketat atau muraqabah. Hal ini dijelaskan secara brilian dalam dialog antara Malaikat Jibril dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengenai tingkatan tertinggi dalam beragama, yaitu Ihsan.

فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Maka beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Beliau bersabda: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Hadits ini merupakan pilar dalam ilmu akhlak dan tasawuf sunni. Rasulullah menjelaskan dua tingkatan ihsan. Pertama, maqam musyahadah, di mana hati seorang hamba dipenuhi dengan cahaya makrifat sehingga seolah-olah ia menyaksikan keagungan Allah secara langsung dalam setiap amalnya. Kedua, maqam muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik lahiriah dan lintasan batiniah. Implementasi dari hadits ini adalah lahirnya integritas moral yang tidak goyah oleh situasi sunyi maupun ramai, karena titik tumpu kesadarannya adalah pengawasan Ilahi.

Realisasi tauhid dan ihsan tersebut kemudian harus dikristalisasi dalam totalitas hidup. Tidak boleh ada dikotomi antara urusan ukhrawi dan duniawi. Seluruh napas kehidupan, mulai dari ritual ibadah hingga aktivitas sosial-ekonomi, harus diletakkan dalam bingkai lillahi ta’ala.

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ