Diskursus mengenai ketuhanan merupakan pondasi paling fundamental dalam bangunan syariat Islam. Sebagai sebuah sistem keyakinan yang bersifat holistik, Islam meletakkan prinsip kemurnian tauhid di atas segala-galanya. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama mufassir dan muhaddits senantiasa merujuk pada Surah Al-Ikhlas sebagai barometer utama dalam memahami identitas Sang Khaliq. Surah ini bukan sekadar bacaan ritual, melainkan sebuah proklamasi teologis yang meruntuhkan segala bentuk antropomorfisme dan syirik. Secara epistemologis, pemahaman terhadap teks-teks wahyu mengenai tauhid menuntut ketelitian dalam membedah setiap diksi yang digunakan oleh Al-Quran maupun lisan kenabian agar tidak terjebak dalam pemahaman yang menyimpang.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dalam Artikel

Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Syarah Tafsir: Ayat pertama menggunakan kata Ahad yang secara semantik berbeda dengan Wahid. Jika Wahid menunjukkan angka satu yang bisa diikuti oleh angka dua, maka Ahad adalah keesaan mutlak yang tidak terbagi dan tidak memiliki bagian-bagian (al-ajza). Ini adalah bantahan telak bagi kaum dualisme maupun trinitarian. Diksi Ash-Shamad dalam ayat kedua merupakan istilah yang sangat padat makna; Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menafsirkan bahwa Ash-Shamad adalah pemimpin yang kesempurnaan kepemimpinannya telah mencapai puncaknya, Dzat yang kepadanya seluruh makhluk bersandar dalam setiap hajat dan kebutuhan mereka. Ini menegaskan kemandirian Allah (Qiyamuhu bi Nafsihi) sekaligus ketergantungan total alam semesta kepada-Nya.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَانَ الرَّجُلُ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Terjemahan: Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang laki-laki mendengar orang lain membaca Qul Huwallahu Ahad dengan mengulang-ulangnya. Ketika pagi hari, ia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menceritakan hal itu, seolah-olah ia menganggap remeh amalan tersebut. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah itu sebanding dengan sepertiga Al-Quran.

Syarah Hadits: Secara metodologis, para ulama seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan mengapa surah yang pendek ini setara dengan sepertiga Al-Quran. Isi Al-Quran secara garis besar terbagi menjadi tiga pilar utama: Hukum (Fiqih), Kisah-kisah (Tarikh), dan Tauhid (Akidah). Surah Al-Ikhlas merangkum seluruh esensi tauhid secara murni tanpa ada campuran unsur lain. Oleh karena itu, secara kualitas makna, ia mencakup sepertiga dari totalitas pesan wahyu. Pengulangan yang dilakukan oleh sahabat dalam hadits tersebut menunjukkan adanya kenikmatan spiritual (dzauq) dalam mentadabburi sifat-sifat Allah, yang kemudian divalidasi oleh Nabi sebagai amalan yang sangat agung di timbangan mizan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فَسَأَلُوهُ فَقَالَ لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

Terjemahan: Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus seseorang dalam suatu sariyah (pasukan khusus). Orang itu ketika mengimami shalat sahabat-sahabatnya selalu mengakhiri bacaannya dengan Qul Huwallahu Ahad. Ketika mereka pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Nabi. Beliau bersabda: Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukan itu? Mereka pun bertanya kepadanya, dan ia menjawab: Karena surah itu adalah sifat Ar-Rahman (Allah), dan aku sangat suka membacanya. Maka Nabi bersabda: Kabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya.