Kajian mengenai Surah Al-Fatihah tidak akan pernah mencapai titik jenuh bagi para penuntut ilmu, terutama ketika kita sampai pada ayat kelima yang menjadi poros utama antara hamba dan Sang Pencipta. Secara epistemologi tafsir, ayat ini merupakan titik transisi dari narasi pujian (al-hamd) menuju permohonan (ad-du’a). Dalam diskursus akidah, ayat ini adalah manifestasi murni dari Tauhid Uluhiyyah, yaitu pengesaan Allah dalam segala bentuk peribadatan. Ulama mufassir menekankan bahwa struktur kalimat dalam ayat ini mengandung rahasia balaghah yang sangat dalam, di mana pendahuluan objek (maf’ul bih) di atas kata kerjanya (fi’il) memberikan faedah pembatasan (al-hashr) yang mutlak.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Terjemahan: Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.
Syarah Mendalam: Secara gramatikal bahasa Arab, susunan normal kalimat adalah Nabudu Iyyaka (Kami menyembah-Mu). Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan pola Iyyaka Nabudu. Dalam kaidah ilmu Ma’ani, taukid dan hashr ini bermakna bahwa ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, sedikit pun dan dalam bentuk apa pun. Kata Nabudu mencakup segala bentuk ketundukan lahiriah dan batiniah, sementara Nasta’in merupakan pengakuan atas kelemahan hamba yang tidak akan mampu berdiri tegak tanpa bantuan taufik dari Allah. Ini adalah fondasi utama akidah Islam yang membedakan antara muwahhid (orang yang bertauhid) dan musyrik.
وَتَقْدِيمُ الْمَفْعُولِ وَهُوَ إِيَّاكَ وَتَكْرَارُهُ لِلِاهْتِمَامِ وَالْحَصْرِ أَيْ لَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاكَ وَلَا نَتَوَكَّلُ إِلَّا عَلَيْكَ وَهَذَا هُوَ كَمَالُ الطَّاعَةِ وَالدِّينُ كُلُّهُ يَرْجِعُ إِلَى هَذَيْنِ الْمَعْنَيَيْنِ
Terjemahan: Dan didahulukannya objek (maf’ul bih) yaitu Iyyaka serta pengulangannya berfungsi untuk memberikan perhatian khusus dan pembatasan (hashr), yang artinya: Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu dan kami tidak bertawakal kecuali kepada-Mu. Inilah kesempurnaan ketaatan, dan seluruh ajaran agama kembali kepada dua makna ini.
Syarah Mendalam: Penjelasan ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Beliau menegaskan bahwa seluruh esensi Al-Quran terangkum dalam Al-Fatihah, dan esensi Al-Fatihah terangkum dalam potongan ayat ini. Iyyaka Nabudu merupakan bentuk berlepas diri dari kesyirikan (al-bara’ah minasy-syirk), sedangkan Iyyaka Nasta’in adalah bentuk berlepas diri dari daya dan upaya diri sendiri (al-bara’ah minal-hawli wal-quwwah). Seorang hamba yang mengucapkan ayat ini dengan penuh tadabbur menyadari bahwa dirinya adalah fakir di hadapan Allah dan hanya Allah-lah satu-satunya sumber kekuatan.
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Terjemahan: Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Jika hamba itu berkata: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Allah berfirman: Hamba-Ku memuji-Ku. Jika ia berkata: Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah berfirman: Hamba-Ku menyanjung-Ku. Jika ia berkata: Pemilik hari pembalasan, Allah berfirman: Hamba-Ku mengagungkan-Ku. Dan jika ia berkata: Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, Allah berfirman: Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. (Hadits Qudsi Riwayat Muslim).

