Dalam diskursus teologi Islam, khususnya dalam madzhab Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, memahami sifat-sifat Allah Swt bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan sebuah kewajiban fundamental yang menjadi pilar keimanan. Para ulama mutakallimin telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Sang Khalik melalui klasifikasi sifat-sifat wajib yang berjumlah dua puluh. Kajian ini bertujuan untuk membedah dimensi ontologis dan epistemologis dari sifat-sifat tersebut, guna memberikan pemahaman yang komprehensif bahwa Allah Swt terbebas dari segala bentuk kekurangan dan memiliki segala kesempurnaan yang mutlak. Pengenalan ini disebut sebagai Ma'rifatullah, yang merupakan awal dari perjalanan spiritual seorang hamba.
يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ شَرْعًا أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى وَمَا يَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ. فَالْوَاجِبُ هُوَ مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ، وَالْمُسْتَحِيْلُ هُوَ مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ وُجُوْدُهُ، وَالْجَائِزُ هُوَ مَا صَحَّ فِي الْعَقْلِ وُجُوْدُهُ وَعَدَمُهُ. وَهَذِهِ الْمَعْرِفَةُ هِيَ أَصْلُ الدِّيْنِ وَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْعَبِيْدِ لِيَصِحَّ إِيْمَانُهُمْ وَتَسْتَقِيْمَ عَقِيْدَتُهُمْ عَلَى مَنْهَجِ الْحَقِّ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Wajib bagi setiap mukallaf (orang yang terbebani syariat) secara hukum agama untuk mengetahui apa yang wajib bagi Allah Ta'ala, apa yang mustahil, dan apa yang jaiz (mungkin). Sesuatu yang wajib secara akal adalah apa yang tidak dapat digambarkan ketiadaannya dalam nalar. Sesuatu yang mustahil adalah apa yang tidak dapat digambarkan keberadaannya dalam nalar. Sedangkan yang jaiz adalah apa yang secara nalar sah untuk ada maupun tiada. Pengetahuan ini adalah pokok agama dan kewajiban pertama bagi para hamba agar iman mereka sah dan akidah mereka lurus di atas manhaj yang benar. Penjelasan ini menekankan bahwa iman tidak boleh didasarkan pada taklid semata, melainkan harus disertai dengan argumentasi rasional (dalil aqli) yang bersinergi dengan wahyu (dalil naqli).
Sifat pertama yang menjadi fondasi adalah sifat Nafsiyyah, yaitu Wujud (Ada). Keberadaan Allah Swt adalah sebuah keniscayaan mutlak yang tidak didahului oleh tiada. Secara ontologis, alam semesta yang bersifat baru (hadits) ini mustahil ada tanpa adanya Sang Pencipta yang bersifat qadim (dahulu). Setelah itu, kita mengenal sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang menafikan segala hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt, seperti Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa).
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. فَاللَّهُ تَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ. قِدَمُهُ سُبْحَانَهُ قِدَمٌ ذَاتِيٌّ لَا ابْتِدَاءَ لَهُ، وَبَقَاؤُهُ بَقَاءٌ سَرْمَدِيٌّ لَا انْتِهَاءَ لَهُ. وَهُوَ الْوَاحِدُ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، فَلَا شَرِيْكَ لَهُ فِي مُلْكِهِ وَلَا مُعِيْنَ لَهُ فِي خَلْقِهِ، بَلْ هُوَ الْخَالِقُ لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلٌ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah Ta'ala disucikan dari sifat kebendaan (jismiyyah), sifat-sifat baru (aradhiyyah), arah, tempat, dan waktu. Sifat Qidam-Nya adalah qidam dzati yang tidak memiliki permulaan, dan Baqa-Nya adalah kekekalan abadi yang tidak memiliki akhir. Dia adalah Yang Maha Esa dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya, dan Perbuatan-Nya. Maka tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya dan tidak ada pembantu bagi-Nya dalam penciptaan-Nya, melainkan Dialah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Yang Memelihara segala sesuatu. Ayat ini (QS. Ash-Shura: 11) merupakan kaidah emas dalam tanzih (mensucikan Allah), di mana penetapan sifat Sama' (Mendengar) dan Bashar (Melihat) tidak boleh disamakan dengan indra makhluk.
Selanjutnya, kita memasuki ranah Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah yang memberikan pengaruh atau konsekuensi pada makhluk. Sifat-sifat ini meliputi Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan absolut. Misalnya, Iradah Allah menentukan segala sesuatu yang mungkin terjadi, sementara Qudrah-Nya mengeksekusi apa yang telah dikehendaki-Nya tersebut. Tanpa sifat-sifat ini, ketuhanan menjadi mustahil secara logika.

