Lansekap sosial digital kita hari ini menyajikan pemandangan yang amat memprihatinkan. Ruang publik, khususnya media sosial, kerap kali berubah menjadi arena pertarungan ego dibanding panggung pertukaran gagasan yang sehat. Perbedaan pandangan politik, paham keagamaan, hingga respon terhadap isu-isu sosial hangat, tak jarang menyulut narasi kebencian, perundungan, dan tuduhan yang tidak berdasar. Fenomena ini menunjukkan adanya erosi adab yang mengkhawatirkan di tengah masyarakat yang mengklaim diri religius.
Padahal, Islam memandang keberagaman gagasan dan cara pandang sebagai bagian dari ketetapan Allah yang alamiah. Islam tidak menuntut keseragaman pemikiran secara mutlak, melainkan menuntut keluhuran sikap dalam mengelola perbedaan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan panduan eksplisit dalam Al-Qur'an mengenai bagaimana sebuah dialektika harus dibangun di atas landasan kesantunan:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Dalam konteks ini, kebenaran tidak boleh disampaikan dengan cara yang merusak atau menghancurkan martabat kemanusiaan lawan bicara.
Krisis terbesar kita saat ini adalah pergeseran orientasi dalam berdiskusi. Ruang dialog yang sejatinya bertujuan untuk mencari kebenaran bersama, kini terdistorsi menjadi panggung pencarian kemenangan pribadi atau kelompok. Ketika orientasi beralih dari pencarian kebenaran menjadi dominasi kekuasaan opini, adab pun terlempar keluar. Seseorang menjadi begitu mudah melabeli orang lain dengan sebutan fasik, sesat, atau pengkhianat hanya karena perbedaan sudut pandang analitis.
Para ulama terdahulu telah meletakkan keteladanan yang amat indah dalam menyikapi ikhtilaf. Imam Syafi'i, seorang mujtahid agung, pernah berpesan bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap tawadhu intelektual inilah yang membentengi mereka dari kesombongan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga lisan di saat kita tergoda untuk mengekspresikan emosi dalam kemasan argumen:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.
Menerapkan akhlakul karimah dalam perbedaan pendapat tidak berarti kita harus kehilangan daya kritis. Sikap kritis justru semakin tajam ketika disampaikan tanpa sentimen pribadi dan perundungan. Ketika kita tidak sependapat dengan sebuah kebijakan publik atau pemikiran seseorang, yang mestinya dikritik adalah substansi argumennya, bukan karakter atau identitas personalnya. Ad hominem adalah bukti dangkalnya pemikiran dan lemahnya adab seseorang dalam berargumen.

