Perkembangan teknologi informasi telah mengubah lanskap kehidupan manusia secara radikal, tidak terkecuali dalam cara kita mempelajari dan menyebarkan ajaran agama. Bagi Generasi Z, internet bukan lagi sekadar alat, melainkan ruang hidup tempat mereka membentuk identitas, mencari jawaban spiritual, dan mengekspresikan diri. Dakwah Islam kini hadir dalam durasi belasan detik di TikTok, infografis estetis di Instagram, hingga utas panjang di X. Fenomena ini tentu membawa angin segar bagi syiar Islam, namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan tantangan besar yang mengancam kedalaman pemahaman keagamaan dan keluhuran akhlak generasi muda kita.

Tantangan pertama dan paling krusial adalah pergeseran otoritas keagamaan yang cenderung mengabaikan sanad atau silsilah keilmuan. Di dunia digital, popularitas sering kali mengalahkan kredibilitas. Seseorang yang pandai berbicara di depan kamera dan mengedit video secara menarik dengan cepat didaulat sebagai rujukan agama, meskipun tanpa latar belakang pendidikan pesantren atau akademis yang memadai. Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya metode dakwah yang bijaksana dan berbasis ilmu yang sahih. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Dalam Artikel

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Ayat ini mengingatkan kita bahwa dakwah harus disampaikan dengan hikmah (kebijaksanaan) dan pengajaran yang baik, bukan sekadar retorika kosong yang memburu interaksi digital demi algoritma semata.

Arus algoritma media sosial yang dirancang untuk memicu emosi pengguna juga menjadi ujian berat bagi keikhlasan berdakwah. Demi mendapatkan banyak tayangan dan pengikut, tidak jarang konten dakwah dikemas secara sensasional, memicu perdebatan yang tidak perlu, bahkan menyerang kelompok lain secara terbuka. Di sinilah letak bahaya riya dan sumah modern, di mana nilai ibadah dakwah rentan tereduksi menjadi sekadar angka-angka statistik di layar gawai. Generasi Z dituntut untuk memiliki ketahanan spiritual yang kokoh agar tidak terjebak dalam perlombaan popularitas yang melalaikan esensi ketulusan niat karena Allah.

Selain itu, hilangnya adab dalam berinteraksi di ruang digital merupakan keprihatinan sosial yang nyata. Kolom komentar sering kali berubah menjadi medan perang caci maki atas nama pembelaan agama. Prinsip tabayyun atau verifikasi informasi yang diajarkan Al-Quran kerap dilupakan begitu saja ketika sebuah potongan video dakwah yang kontroversial menjadi viral. Mengenai pentingnya sikap hati-hati ini, Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Sikap tergesa-gesa menghakimi sesama Muslim tanpa tabayyun tidak hanya merusak ukhuwah islamiyah, tetapi juga mencoreng citra Islam yang damai di mata masyarakat luas.

Kita perlu merumuskan kembali definisi kesuksesan dakwah di era digital ini. Keberhasilan dakwah tidak boleh diukur dari seberapa banyak jumlah penyuka (likes) atau pembagian ulang (shares), melainkan dari sejauh mana pesan tersebut mampu mengubah perilaku pembacanya menjadi lebih dekat kepada Sang Pencipta dan lebih peduli sesama. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diutus ke dunia ini utamanya adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia, sebagaimana sabda beliau: