Kita sedang hidup di era di mana batasan ruang dan waktu telah lebur dalam genggaman gawai. Generasi Z, sebagai penduduk asli lanskap digital ini, tumbuh dalam limpahan informasi yang nyaris tanpa batas. Bagi dunia dakwah Islam, realitas ini menghadirkan peluang emas sekaligus tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mimbar-mimbar masjid kini telah meluas menjadi layar-layar ponsel pintar, menjangkau jutaan jiwa dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan transmisi informasi ini, muncul pertanyaan mendasar yang menggelitik nurani kita: apakah derasnya arus konten keagamaan di dunia maya saat ini benar-benar menuntun Gen Z menuju kedalaman spiritual, atau justru menjebak mereka dalam kedangkalan pemahaman?
Tantangan terbesar dakwah digital hari ini adalah fenomena hilangnya otoritas keilmuan dan sanad guru. Dalam tradisi Islam yang luhur, ilmu agama bukanlah komoditas yang bisa diambil secara instan tanpa proses bimbingan yang jelas. Sayangnya, algoritma media sosial sering kali lebih memihak pada konten yang sensasional dan menghibur daripada kajian yang mendalam dan metodologis. Siapa pun kini bisa berbicara atas nama agama hanya berbekal kemampuan retorika dan estetika visual, tanpa memedulikan kaidah-kaidah ilmiah yang ketat. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan panduan yang jelas dalam mengemban misi dakwah ini, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Ayat mulia ini menegaskan bahwa dakwah harus disampaikan dengan hikmah dan tutur kata yang baik, sebuah prinsip yang sering kali terabaikan demi mengejar jumlah penonton dan popularitas digital.
Akibat dari pengabaian prinsip hikmah ini, kita menyaksikan pergeseran fungsi dakwah dari tuntunan menjadi sekadar tontonan. Gen Z kerap disuguhi konten keagamaan yang terfragmentasi, dipotong-potong demi durasi video pendek yang memikat perhatian dalam hitungan detik. Pendekatan instan ini berisiko melahirkan pemahaman keagamaan yang hitam-putih, kaku, dan rentan terhadap sikap merasa paling benar sendiri. Ketika agama dipahami secara parsial tanpa bimbingan ulama yang mumpuni, maka esensi Islam sebagai rahmat bagi semesta alam akan meredup, digantikan oleh wajah agama yang

