Perubahan paradigma komunikasi di era digital telah menggeser mimbar-mimbar kayu ke layar gawai yang serba cepat. Generasi Z, sebagai penduduk asli dunia digital, menghadapi realitas keagamaan yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Tantangan utama yang muncul bukanlah kurangnya informasi, melainkan banjir informasi yang sering kali mengabaikan kedalaman makna dan sanad keilmuan. Dakwah kini sering kali terjebak dalam durasi singkat yang mengejar viralitas, namun abai terhadap pembentukan karakter dan pemahaman fiqih yang komprehensif.
Kita harus menyadari bahwa dakwah di ruang digital memerlukan hikmah yang lebih dari sekadar kemampuan teknis menyunting video. Islam mengajarkan bahwa penyampaian kebenaran harus dibarengi dengan metode yang tepat agar tidak menimbulkan antipati. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Ayat ini menegaskan bahwa hikmah dan tutur kata yang baik adalah fondasi utama. Bagi Generasi Z, tantangannya adalah bagaimana menjaga adab di kolom komentar dan memastikan bahwa setiap konten yang dibagikan tidak hanya estetis secara visual, tetapi juga memiliki landasan teologis yang kuat. Jangan sampai semangat berdakwah justru berubah menjadi ajang penghakiman massal atau panggung kesombongan intelektual yang memecah belah umat.
Fenomena algoritma media sosial juga menciptakan tantangan tersendiri berupa ruang gema atau echo chamber. Generasi muda cenderung hanya terpapar pada pemikiran yang mereka sukai, sehingga menutup diri dari perspektif lain yang mungkin lebih moderat atau mendalam. Di sinilah pentingnya sikap tabayyun atau verifikasi informasi agar tidak terjebak dalam penyebaran hoaks yang berbalut agama. Kewajiban untuk memverifikasi ini diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبäٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
Tanpa sikap kritis dan kehati-hatian, dakwah digital berisiko menjadi alat polarisasi. Generasi Z perlu dibekali kemampuan untuk membedakan mana konten yang bersifat nasihat tulus dan mana yang sekadar provokasi demi meningkatkan keterlibatan atau engagement. Akhlakul karimah harus tetap menjadi kompas utama meskipun interaksi terjadi tanpa tatap muka secara langsung, karena setiap ketikan jari akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.
Selain itu, kita melihat adanya tren budaya membatalkan atau cancel culture yang merambah ke ranah agama. Kesalahan kecil seorang pendakwah atau sesama Muslim sering kali dieksploitasi hingga menutup pintu maaf dan perbaikan diri. Padahal, esensi dakwah adalah merangkul, bukan memukul. Kita perlu mengembalikan marwah dakwah sebagai proses pendidikan yang penuh kasih sayang, bukan sekadar kompetisi untuk menunjukkan siapa yang paling benar di mata pengikut dunia maya.
Oleh karena itu, sinergi antara ulama tradisional yang memiliki kedalaman ilmu dengan generasi muda yang fasih teknologi menjadi mutlak diperlukan. Ulama perlu masuk ke ruang digital dengan bahasa yang relevan bagi Gen Z, sementara Gen Z harus tetap merujuk pada otoritas keilmuan yang jelas. Dakwah digital tidak boleh hanya menjadi kulit tanpa isi; ia harus menjadi jembatan yang membawa cahaya iman ke dalam kegelapan disinformasi yang saat ini melanda dunia siber.

