Fenomena kebisingan di ruang publik digital hari ini sering kali menampilkan wajah keberagamaan yang keras dan kaku. Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi ruang dialektika untuk memperkaya khazanah pemikiran, justru kerap berubah menjadi medan pertempuran ego. Kita menyaksikan betapa mudahnya kalimat-kalimat kasar terlontar, caci maki diproduksi, hingga pelabelan negatif disematkan kepada mereka yang tidak sejalan. Padahal, esensi dari keberislaman bukan sekadar mempertahankan kebenaran argumen, melainkan bagaimana kebenaran itu disampaikan dengan bingkai akhlakul karimah yang menyejukkan.

Keragaman pemikiran dan latar belakang adalah sebuah keniscayaan yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

Dalam Artikel

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan dari perbedaan bukanlah untuk saling menegasikan atau menjatuhkan, melainkan untuk saling mengenal (lita'arafu). Dalam konteks perbedaan pendapat, mengenal berarti berupaya memahami sudut pandang orang lain sebelum memberikan penilaian atau sanggahan.

Masalah utama dalam perselisihan dewasa ini bukanlah pada substansi perbedaannya, melainkan pada hilangnya kerendahan hati. Banyak di antara kita yang merasa memegang kunci kebenaran tunggal, sehingga memandang rendah siapa pun yang berada di luar garis pemikirannya. Sikap merasa paling benar ini sering kali menutup pintu dialog dan memicu permusuhan yang berkepanjangan. Islam mengajarkan bahwa mempertahankan kebenaran memang penting, namun menjaga kehormatan sesama Muslim jauh lebih utama daripada memenangkan sebuah perdebatan yang sia-sia.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan jaminan yang luar biasa bagi mereka yang mampu menahan diri dari debat kusir demi menjaga harmoni. Beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Artinya: Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar. (HR. Abu Dawud). Hadis ini merupakan tamparan keras bagi kita yang sering kali rela menghancurkan ukhuwah hanya demi pengakuan bahwa pendapat kita adalah yang paling unggul. Mengalah dalam perdebatan bukan berarti kalah dalam prinsip, melainkan menang dalam mengendalikan nafsu dan menjaga kemuliaan akhlak.

Kita perlu belajar dari kearifan para imam mazhab terdahulu. Imam Syafi'i, misalnya, pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap intelektual seperti inilah yang melahirkan peradaban Islam yang inklusif dan progresif. Mereka mampu berbeda pendapat secara tajam dalam masalah fikih, namun tetap bisa berdiri dalam satu baris salat yang sama tanpa ada rasa dengki di dalam dada. Inilah manifestasi nyata dari kedalaman ilmu yang berbanding lurus dengan keluhuran adab.